Chapter 1 : Rumah yang Sempurna Pagi hari, tanggal 16 Oktober. Pagi pertamaku sebagai istri Devano. Aku sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Wajan kecil di atas kompor mengeluarkan bunyi desis ketika mentega mulai meleleh. Kupecahkan dua butir telur di atasnya satu per satu. Entah kenapa hal sederhana ini berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Mungkin karena semuanya kini menjadi kenyataan. Dulu aku hanya bisa membayangkan momen ini—memasak untuk suami, menunggunya keluar kamar, lalu sarapan bersama. Selang beberapa saat, kudengar suara Devano yang baru saja keluar kamar. “Harum banget masakannya,” ujar Devano dengan suara khasnya. Ia berjalan mendekat, lalu memelukku dari arah belakang. “Istriku masak apa?” “Hmm … aku masak telur mata sapi. Nggak apa-apa ‘kan?” “Nggak apa-apa dong. Masih lama?” “Sebentar lagi kok. Kamu tunggu aja di ruang makan.” “Oke. Aku tunggu ya, Istriku.” “Iya, Suamiku.” Devano melepaskan pelukannya lalu beranjak menuju ruang ...