Magic App 2 (Chapter 1)

Chapter 1 : Rumah yang Sempurna

Pagi hari, tanggal 16 Oktober. Pagi pertamaku sebagai istri Devano. Aku sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Wajan kecil di atas kompor mengeluarkan bunyi desis ketika mentega mulai meleleh. Kupecahkan dua butir telur di atasnya satu per satu.

Entah kenapa hal sederhana ini berhasil membuatku senyum-senyum sendiri. Mungkin karena semuanya kini menjadi kenyataan. Dulu aku hanya bisa membayangkan momen ini—memasak untuk suami, menunggunya keluar kamar, lalu sarapan bersama. Selang beberapa saat, kudengar suara Devano yang baru saja keluar kamar.

“Harum banget masakannya,” ujar Devano dengan suara khasnya. Ia berjalan mendekat, lalu memelukku dari arah belakang.

“Istriku masak apa?”

“Hmm … aku masak telur mata sapi. Nggak apa-apa ‘kan?”

“Nggak apa-apa dong. Masih lama?”

“Sebentar lagi kok. Kamu tunggu aja di ruang makan.”

“Oke. Aku tunggu ya, Istriku.”

“Iya, Suamiku.”

Devano melepaskan pelukannya lalu beranjak menuju ruang makan. Aku segera mematikan kompor, mengangkat telur mata sapi yang telah matang. Kutaruh dua telur itu pada masing-masing piring yang telah kutaruh nasi hangat dengan cetakan mangkuk—bentuknya bulat rapi. Tak lupa, kutuangkan juga kecap manis di atasnya, membentuk garis-garis tipis berwarna cokelat. Semoga Devano menyukai masakanku. Amin.

“Wah, ini sih masakan restoran bintang lima,” respons Devano begitu aku membawa hasil masakanku ke hadapannya.

“Jangan berlebihan deh. Ini hanya telur mata sapi biasa ditambah kecap dan nasi hangat.”

“Ini spesial, Sayang. Masakan perdana kamu setelah menjadi istriku. Ayo, duduk. Aku udah lapar banget nih.”

Aku mengangguk pelan lalu duduk di hadapannya. Kami pun mulai menikmati sarapan pagi ini dengan penuh kebahagiaan.

-oOo-

Sebulan berlalu. Apartemen ini masih sama—rapi dan minimalis dengan jendela besar yang menghadap deretan gedung-gedung kota. Setiap pagi, cahaya matahari masuk menembus tirai tipis berwarna putih menyinari ruang makan kecil yang menyatu dengan dapur. Di sinilah rutinitasku dimulai. Pagi ini, aku tengah memanaskan sup ayam kampung yang kubuat kemarin untuk perayaan satu bulan pernikahanku dengan Devano.

Uap tipis mengepul dari panci di atas kompor. Aroma kaldu ayam yang hangat bercampur dengan wangi bawang putih dan seledri memenuhi dapur. Biasanya aroma itu membuat aku nyaman, tapi kali ini berbeda. Tiba-tiba perutku terasa kurang bersahabat. Bukan sakit, seperti ada gelombang kecil yang naik perlahan ke tenggorokan.

Aku terdiam beberapa saat, memegang pinggir meja untuk menyeimbangkan diri. Aku mencoba menarik napas perlahan, berharap rasa itu segera mereda. Namun, sensasi tidak nyaman itu kembali terasa. Segera kumatikan kompor, menutup panci, lalu melangkah cepat menuju kamar mandi terdekat. Tak lama, Devano muncul menghampiriku.

“Kamu mual lagi, Del?” tanyanya sambil menyodorkan sebotol minyak kayu putih padaku.

Aku menggangguk pelan sambil menerima botol minyak kayu putih.

“Mau ke dokter? Aku antar deh. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”

“Hmm … nggak perlu. Mungkin aku hanya masuk angin.”

“Kamu yakin? Udah dua hari loh kamu seperti ini.”

“Iya, nanti juga membaik.”

“Ya, udah. Kalau besok belum membaik, kita ke dokter ya?”

“Iya, iya.”

“Sekarang kita sarapan ya? Aku udah laper banget.”

“Kamu duluan aja. Sup ayamnya udah aku hangatkan tadi. Aku mau siap-siap dulu.”

“Kamu mau tetap ngantor? Apa nggak sebaiknya istirahat? Muka kamu agak pucat loh.”

“Aku baik-baik aja.”

Devano menatapku cukup lama untuk memastikan kondisiku memang baik-baik saja.

“Ya sudah, kalau ada apa-apa jangan ragu bilang sama aku ya? Aku makan duluan. Lapar banget nih.”

“Iya.”

Devano beranjak pergi menuju ruang makan. Aku kembali fokus pada cermin wastafel, memandangi wajahku yang memang sedikit pucat. Kubasuh wajahku dengan air, berharap sensasi segar mengusir rasa mual yang kurasakan.

“Kamu kenapa sih, Del?” gumamku pelan.

Aku beranjak keluar kamar mandi menuju kamar. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku untuk mengecek kalender. Setibanya di kamar, kuraih kalender meja pada nakas samping tempat tidur. Kalender itu masih terbuka pada bulan ini—Oktober. Kugeser perlahan lembarannya, jemariku berhenti pada lingkaran merah yang kutandai sebagai jadwal bulananku.

Satu … dua … tiga …

Jantungku mendadak berdegup lebih cepat. Ternyata sudah lewat bukan cuma satu atau dua hari, tapi hampir dua minggu.

“Apa aku …”

“Del, siap-siapnya jangan lama ya? Nanti kita telat. Kita jadi berangkat bareng ‘kan?” suara Devano terdengar dari luar kamar.

“Iya, aku mandi sekarang.”

Kutaruh kalender tersebut ke tempat semula. Aku segera beranjak menuju kamar kamar mandi untuk bersiap.

-oOo-

Waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Aku masih berada di rumah sakit, menunggu Devano datang menjemputku. Sambil menunggu, kuputuskan untuk membeli beberapa jajanan di kantin rumah sakit.

“Mbak, saya beli risoles sama pastelnya masing-masing lima ya?”

“Siap. Sebentar saya siapkan.”

“Jadi berapa semuanya, Mbak?”

“Sepuluh jadi 80 ribu.”

“Ini uangnya.”

“Terima kasih. Ini pesanannya. Selamat menikmati.”

“Sama-sama.”

Kubawa kantong plastik berisi lima risoles dan lima pastel ke salah satu meja yang tesedia. Aroma gorengan yang masih hangat menyeruak lembut, bercampur dengan bau khas rumah sakit—antiseptik dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Setelah mual datang dan pergi, sekarang aku ingin sesuatu yang gurih dan hangat. Aku duduk, mengambil satu risoles lalu menggigitnya perlahan.

“Hmm … enak.”

Akhirnya aku bisa menikmati makanan hari ini tanpa merasa mual. Aku mengunyah perlahan, menikmati setiap gigitan. Baru satu habis, tanganku refleks mengambil yang kedua. Belum sempat aku menghabiskan risoles yang kedua, ponselku berbunyi. Kuraih ponselku untuk mengecek pesan yang baru saja masuk. Ternyata Devano sudah berada di parkiran. Kubalas pesannya menggunakan voice note.

“Oke, aku ke sana sekarang.”

Setelah membalas pesan Devano, aku segera beranjak meninggalkan area kantin menuju parkiran.

“Kamu habis dari mana?”

“Kantin, Yang. Aku beli risoles sama pastel. Kamu mau?”

“Nggak. Buat kamu saja. Tumben beli banyak. Kamu lapar?”

“Iya, nih. Dari tadi siang bawaannya lapar mulu. Jadi sambil nunggu kamu beli deh cemilan.”

“Maaf ya aku jemputnya telat. Tadi ada urusan sebentar.”

It’s okay.”

“Ya udah, sekarang mau mampir makan dulu?”

“Boleh.”

“Kamu mau makan apa?”

“Aku lagi pengen Ayam Merah Wuenak.”

“Oke, kita ke sana sekarang.”

-oOo-

Sekitar pukul 20.00 malam, kami tiba di apartemen setelah makan malam di salah satu gerai Ayam Merah Wuenak. Saat ini, kami sedang berbaring di tempat tidur sambil menonton tayangan review rumah di YouTube.

“Del …” panggil Devano pelan. Aku menoleh ke arahnya.

“Kenapa, Yang?”

“Sabtu nanti kita cek rumah kita, yuk! Kamu ada waktu?”

“Boleh. Sabtu ‘kan memang libur.”

“Iya sih, tapi siapa tau kamu ada janji pergi sama Nia.”

“Sabtu ini nggak ada sih. Aku free.”

“Oh, iya aku kelupaan sesuatu.”

“Lupa apaan?”

Devano segera beranjak dari tempat tidur, menghampiri setelan jasnya yang tergantung di lemari, lalu mengambil sebuah kantong plastik berwarna putih.

“Aku beli ini buat kamu.”

“Kamu beli apaan?”

Devano kembali duduk di sampingku, menyerahkan kantong plastik itu.

“Aku beli testpack. Besok pagi kamu test ya? Aku curiga kamu hamil.”

Aku terdiam beberapa saat sambil memegangi kantong itu.

“Aku hamil?”

“Ya, siapa tau. Dari yang aku baca, semua yang kamu rasakan beberapa hari ini, mulai dari mual, cepat lapar, sama siklus bulanan yang nggak lancar mengarah pada kehamilan.”

Aku tidak langsung menjawab. Jemariku kini memegangi isi dari kantong plastik itu.

“Aku nggak mau kita hanya nebak-nebak,” lanjut Devano. “Kalau memang kamu hamil ya kita syukuri. Kalau belum juga nggak apa-apa. Mungkin memang belum waktunya.”

“Iya, Yang. Besok pagi aku test.”

“Sekarang kita istirahat?”

Aku menggangguk pelan, menaruh kembali kotak testpack ke dalam kantong plastik, lalu kutaruh di nakas.

“Selamat tidur, Istriku.”

“Selamat tidur, Yang.”

-oOo-

Keesokan harinya. Devano bangun lebih pagi dariku. Ia sengaja bangun lebib pagi agar dapat membangunkan diriku yang masih terlelap untuk melakukan tes kehamilan.

“Sayang, bangun. Ini udah pagi. Kamu cek sekarang ya?”

Itulah kalimat pertama yang kudengar dari mulutnya hari ini. Saat ini, aku telah berada di kamar mandi, baru saja melakukan tes tersebut dan sedang menunggu hasilnya keluar.

“Sayang, hasilnya udah keluar belum?” tanya Devano dari luar kamar mandi.

“Belum, Yang. Sabar ya?”

“Oke. Kalau udah langsung keluar ya?”

“Iya, iya.”

Selang beberapa saat, kuraih testpack yang telah kugunakan untuk melihat hasilnya. Aku segera keluar dari kamar mandi.

“Gimana hasilnya?”

“Hmm … kamu bisa liat sendiri,” jawabku datar sambil menyerahkan alat tersebut padanya.

“Dua garis? Kamu hamil?”

Aku mengganguk, lalu tersenyum padanya.

“Iya, Yang. Ternyata dugaan kamu memang benar. Aku hamil.”

Yes, I'm going to be a father!”

Devano memelukku hangat, kemudian mengusap-usap perutku.

“Papa tunggu kamu ya, Nak. Sehat-sehat di dalam sana.”

To be continued … © 2026 by WillsonEP. 
Bagaimana chapter perdana "Magic App 2"?

Comments

Post a Comment

Trending This Week 🔥

Magic App 2 (Chapter 5)

Julian & Jovita [NV] (Prolog)