Magic App 2 (Chapter 2)

Chapter 2 : Sekretaris Baru

Perjalanan menuju kantor Devano hari ini terasa lebih menyenangkan dari biasanya. Kali ini, aku sengaja datang tanpa kabar—ingin memberikan kejutan kecil dengan mengajaknya makan siang bersama. Mobil berhenti tepat di depan gedung kantornya yang menjulang tinggi. Mesin dimatikan, sejenak pandanganku menatap gedung kantor itu. Senyum tipis terukir tanpa sadar.

Sudah cukup lama aku tidak datang ke kantor ini. Ya, akhir-akhir ini aku cukup sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit sehingga baru sempat mampir ke kantornya hari ini. Langkah kaki segera menyusuri area lobi. Suasana terlihat cukup ramai, dipenuhi orang-orang dengan kesibukan masing-masing. Setelah menyapa resepsionis, aku langsung menuju lift.

Perjalanan naik terasa singkat. Selang beberapa menit, aku pun tiba di lantai tempat ruang kerja Devano berada. Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar, menyusuri koridor yang sangat familiar. Beberapa karyawan menyapa dengan ramah, aku membalasnya sambil tersenyum.

Tatapanku kini beralih ke pintu ruangan Devano yang berada di ujung lorong. Ketika tanganku hendak meraih gagang pintu tersebut, pintu itu tiba-tiba terbuka dari dalam. Seorang perempuan keluar ruangan. Langkahku langsung terhenti. Perempuan itu tampil rapi dengan setelan kerja yang membentuk tubuhnya dengan pas.

Rambut panjangnya tergerai tertata, dan wajahnya … cantik. Sangat cantik. Ia juga terlihat masih muda. Kami saling berpandangan sesaat. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, seolah tidak menyangka ada seseorang berdiri tepat di depan pintu.

“Maaf …” ucapnya pelan, sambil sedikit menunduk.

“Iya, nggak apa-apa,” jawabku singkat.

Namun, langkahku belum juga bergerak. Tatapanku masih tertahan padanya, diliputi rasa penasaran yang tiba-tiba muncul. Perempuan ini siapa? Kok aku baru pertama kali lihat dia di sini?

“Kimberly, nanti tolong kirimkan dokumen yang tadi ke klien ya?”

Suara Devano terdengar dari dalam ruangan. Oh, nama perempuan itu Kimberly. Perempuan itu langsung menoleh sedikit ke arah dalam. “Baik, Pak. Saya permisi.”

Setelah itu, ia kembali menatapku sesaat sebelum akhirnya pergi melewatiku. Aroma parfum perempuan ini tercium samar, meninggalkan kesan yang entah kenapa membuatku sedikit terusik. Pandanganku sempat mengikuti langkah perempuan itu, sebelum akhirnya kembali menatap pintu ruang Devano. Aku segera melanjutkan langkah, memasuki ruangannya.

“Della? Kamu ke sini?”

Senyumku langsung terpasang. “Surprise!”

Ekspresinya perlahan berubah, senyum mulai menghiasi wajahnya. Ia berjalan mendekat, lalu meraih tanganku.

“Kok nggak bilang dulu?” tanyanya.

“Namanya juga surprise, kalau bilang-bilang dulu bukan surprise namanya. Kamu sibuk?”

Devano menggeleng. “Nggak kok, tadi cuma briefing sebentar.”

“Perempuan tadi siapa?” tanyaku sambil mengalihkan pandangan ke pintu yang tadi dilewati perempuan bernama Kimberly.

“Oh, Kimberly? Dia sekretaris baru aku. Baru mulai minggu ini.”

“Oh, sekretaris baru …”

“Kenapa emangnya?”

“Nggak apa-apa. Penasaran aja pantes aku baru lihat.”

“Iya, dia karyawan baru. Masih banyak butuh adaptasi.”

Aku mengangguk, mencoba menepis perasaan yang mulai mengganggu.

“Jadi kamu ke sini mau apa?” lanjutnya.

“Aku mau ajak kamu makan siang bareng. Bisa?”

“Tentu bisa dong. Mau makan di mana?”

“Hmm … restoran dekat sini saja. Aku lagi pengen makan yang kuah-kuah.”

“Oke, Sayang.”

Aku tersenyum kecil. Namun, di dalam hati bayangan tentang Kimberly masih tertinggal. Kenapa Devano tidak pernah cerita soal perempuan yang menjadi sekretaris barunya? Apa Devano sengaja menutup-nutupi sekretaris cantiknya dariku? Kamu ini benar-benar ya, Devano! Hal seperti ini masa kamu nggak cerita ke aku?

“Del, kamu baik-baik saja? Kamu mual lagi atau pusing? Mau ke dokter?”

“Aku baik-baik saja.”

“Yakin?”

“Iya. Ayo, kita makan!”

“Oke.”

Devano meraih kunci mobilnya, lalu menggandeng tanganku keluar dari ruangan. Aku mengikutinya, tapi pikiranku masih tertinggal pada satu hal—Kimberly. Sepanjang berjalan menyusuri koridor, tanpa sadar mataku mencari keberadaan perempuan itu. Kimberly terlihat sedang berdiri dekat meja kerjanya, tengah berbicara dengan salah satu karyawan. Begitu dia melihat kami, ia langsung menghentikan percakapannya.

“Pak Devano,” panggilnya sopan.

“Iya, Kim?”

“Saya hanya ingin mengingatkan, setelah makan siang nanti Bapak ada meeting dengan Pak Januar di PT Januara Sejati.”

“Baik, Kim. Terima kasih sudah mengingatkan. Oh, iya, Kim, perkenalkan ini istri saya.”

“Siang, Bu. Saya Kimberly.”

“Siang. Saya Della.”

“Salam kenal, Bu.”

Aku membalas dengan anggukan kecil. Senyumnya tetap terjaga, rapi dan profesional. Namun, entah kenapa justru itu yang membuatku semakin tidak nyaman. Seolah-olah semuanya terlalu sempurna.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu,” ucap Kimberly.

“Iya, Kim,” jawab Devano singkat.

Perempuan itu pun pergi, langkahnya tenang dan teratur. Tanpa sadar, pandanganku kembali mengikutinya hingga ia benar-benar menghilang menuju pantry.

“Yuk,” ajak Devano pelan.

Aku tersadar, lalu mengangguk. “Iya.”

Kami melanjutkan langkah menuju lift. Kali ini, suasana terasa berbeda. Tidak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya. Hanya suara langkah kaki dan sesekali bunyi notifikasi dari ponsel orang-orang di sekitar. Pintu lift terbuka.

Kami masuk bersama beberapa karyawan lain. Devano berdiri di sampingku, tangannya sempat meraih tanganku seperti biasa. Namun, entah kenapa kali ini aku tidak membalas genggamannya. Bukan karena tidak mau, tapi ada rasa yang mengganjal. Perjalanan menuju restoran berlangsung dalam diam.

Devano beberapa kali melirik ke arahku, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya urung. Aku pun sama. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Mobil berhenti di depan sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Kami turun, lalu berjalan masuk.

Seorang pelayan menyambut dan mengantar kami ke meja. Kami duduk berhadapan. Menu dibuka, tapi fokusku tidak benar-benar di sana.

“Kamu mau pesan apa, Sayang?”

“Yang berkuah saja, Mas.”

“Iya, aku tahu. Di sini ada banyak menu berkuah. Kamu mau apa?”

Aku menatap menu sekilas, kutemukan menu soto ayam di sana.

“Soto ayam,” jawabku singkat.

“Oke. Mbak, pesan soto ayamnya dua ya.”

“Baik, dua porsi soto ayam. Untuk minumnya?”

“Teh hangat saja, Mbak.”

“Baik, saya ulangi pesanannya. Dua porsi soto ayam dan teh hangat. Mungkin ada tambahan lain?”

“Cukup, Mbak. Itu saja.”

“Baik, mohon ditunggu pesanannya ya, Pak, Bu.”

Pelayan itu pun pergi. Meja kami kembali dipenuhi keheningan. Aku menautkan jari-jariku di atas meja, menatap kosong ke arah gelas air di depanku. Uap dari dapur samar tercium, bercampur dengan aroma rempah dari masakan di sekitar. Biasanya, suasana seperti ini terasa hangat. Hari ini tidak.

“Del,” panggilnya pelan.

“Ya?”

“Kamu kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Dari tadi kamu keliatan beda. Kamu ada masalah?”

“Nggak ada tuh.”

Devano menghela napas pelan. “Kamu nggak bisa bohong.”

Aku tersenyum tipis. “Aku nggak lagi bohong.”

“Terus kenapa kamu kayak gini?”

“Aku hanya lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Aku menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.

“Nggak penting,” lanjutku.

“Kalau kamu jadi seperti ini, berarti ini penting. Kamu kenapa?”

“Oke, kamu mau tahu kenapa aku begini?”

“Tentu. Kamu kenapa sebenarnya?”

To be continued … © 2026 by WillsonEP.
Jangan lupa comments and share. Terima kasih udah mampir. 😁

Comments

Trending This Week 🔥

Magic App 2 (Chapter 1)

📣 Magic App 2 Mulai 12 Maret 2026

📣 Upcoming Series : Magic App 2