Magic App 2 (Chapter 7)
Chapter 7 : Prioritas Pertama
Devano baru saja tiba di rumah sakit. Waktu masih menunjukkan pukul 16.30. Ia turun dari mobil, melangkah menuju ruang kerja Della di rumah sakit itu. Langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia merasa ada dorongan yang tidak bisa dijelaskan—rasa rindu, khawatir, dan bertanggung jawab bercampur menjadi satu.
Koridor rumah sakit ini sudah tidak asing baginya. Beberapa perawat dan satpam yang mengenalnya menyapa dengan ramah.
“Selamat sore, Pak. Mau jemput Ibu Della ya?” tanya seorang satpam.
“Sore, Pak. Iya, saya ke sini mau jemput istri saya.”
“Silakan, Pak.”
Devano melanjutkan langkahnya menuju ruangan Della. Setibanya di depan ruangan, ia terhenti sejenak, lalu mengetuk pintu di depannya.
“Masuk,” suara Della terdengar dari dalam ruangan. Devano membuka pintu perlahan, kemudian melangkah masuk.
Della tampak duduk di balik meja kerjanya. Matanya terpaku pada layar komputer, beberapa lembar berkas terbuka di sampingnya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tetap berusaha fokus menyelesaikan pekerjaannya.
“Kerjaan kamu masih banyak?” tanya Devano dengan suara pelan.
Della menoleh ke arah Devano yang masih berdiri di ambang pintu.
“Ternyata kamu, Yang. Aku pikir Naura yang masuk. Kamu kok udah di sini?”
“Aku sengaja jemput kamu lebih awal. Aku kangen.”
“Kamu bisa aja deh. Tunggu sebentar ya? Ini sedikit lagi beres.”
“Oke, aku tungguin.”
Devano beranjak duduk di sofa yang tersedia sambil memainkan ponselnya.
“Memangnya kerjaan kamu udah beres? Tumben banget jam segini kamu udah di luar kantor.”
“Semuanya sudah aku atur. Sekarang yang menjadi prioritas pertamaku ya kamu, Sayang.”
Della tersenyum kecil, lalu kembali fokus pada kerjaannya. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya terdengar suara ketikan halus dari keyboard dan sesekali bunyi klik mouse. Devano yang duduk di sofa beberapa kali melirik ke arah Della. Tatapannya tidak benar-benar fokus pada ponsel di tangannya.
“Cantik,” gumam Devano pelan.
Della tetap fokus pada layar di depannya, sama sekali tidak menyadari ucapan Devano barusan. Pandangan Devano kini beralih pada ponselnya yang baru saja bergetar.
Kimberly
Selamat sore, Pak. Pak Devano di mana ya? Ini sudah ditunggu Pak Exander di ruang meeting. Meeting bersama BOD sudah mau dimulai. 16:40
16:41 Tolong kamu gantikan saya ya, Kim.
16:41 Saya tidak bisa hadir di meeting tersebut.
“Kamu nggak bosan nungguin aku di situ?”
“Nggak, sama sekali. Aku tungguin.”
“Bentar lagi ya, Yang.”
“Iya, santai aja. Nggak perlu buru-buru.”
Devano menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap Della yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ada rasa tenang yang sulit ia jelaskan setiap kali melihat istrinya seperti itu—fokus, mandiri, tapi tetap terlihat manja di saat yang sama. Beberapa menit berlalu. Della akhirnya menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya sejenak ke kursi.
“Finally,” ujarnya sambil melakukan peregangan.
“Sudah selesai?”
“Sudah, Yang. Kita pulang sekarang?”
“Hmm … kalau kita makan dulu gimana? Pasti kamu belum makan.”
“Boleh, mau makan di mana?”
“Kamu lagi pengen apa?”
“Aku lagi pengen nasi goreng Atiek.”
“Nasi Goreng Bu Atiek, Jalan Sederhana?”
“Iya.”
“Ya udah, kita ke sana sekarang ya?”
“Makasih, Yang.”
Keduanya beranjak keluar ruangan, berjalan berdampingan menuju mobil Devano yang terparkir di basement. Di tengah perjalanan, ponsel Devano kembali bergetar. Getaran itu membuat Devano menghentikan langkahnya.
“Sebentar, Del.”
“Ada apa, Yang?”
“Aku ada telepon. Aku angkat sebentar ya?”
“Oh, oke deh.”
Devano melangkah menjauh dari Della untuk menerima telepon. Della memerhatikan langkah Devano yang mulai menjauh.
“Telepon dari siapa ya? Kok harus banget terimanya di sana?”
Della menghela napas pelan.
“Ah, Della kamu ini mikir apa? Di sini ‘kan ramai banyak orang. Pasti telepon itu penting banget dan butuh ruang privasi.”
Beberapa menit berlalu. Devano kembali.
“Sudah teleponnya?”
“Sudah, sekarang kita ke mobil ya?”
“Oke deh.”
-oOo-
“Masih sama ya tempatnya,” ujar Devano sambil melihat sekeliling.
“Iya, dari dulu nggak banyak yang berubah.”
Seorang pelayan datang menghampiri mereka.
“Pesan apa, Kak?”
“Nasi goreng spesialnya dua porsi ya, Mas.”
“Baik, nasi gorengnya pedas atau nggak?”
“Del, kamu pedas atau nggak?”
“Aku pedas.”
“Oke. Dua-duanya pedas ya, Mas.”
“Baik, mohon ditunggu.”
Pelayan itu pun pergi, meninggalkan mereka berdua dalam suasana hangat yang sederhana, tetapi terasa begitu akrab.
“Yang …”
“Ya, Del?”
“Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?”
“Tentu boleh. Kamu mau tanya apa?”
“Tadi siapa yang telepon kamu?”
“Oh, yang di rumah sakit? Kimberly, Sayang.”
“Kim? Ada urusan apa dia telepon kamu?”
“Pastinya urusan kerjaan, Sayang. Please, kamu jangan cemburu ya? Hubungan aku sama dia hanya sebatas profesional.”
“Aku nggak cemburu. Aku percaya sama kamu.”
“Beneran?”
“Iya.”
Suasana sempat hening beberapa detik, sebelum pelayan datang membawa pesanan mereka.
“Nasi goreng spesialnya, Kak. Hati-hati masih panas.”
“Terima kasih, Mas,” ujar Devano.
Mereka memulai makan. Beberapa suapan pertama dilewati dalam diam. Tidak canggung, tapi tidak juga sehangat sebelumnya. Sesekali Della melirik Devano.
“Kamu bilang aku prioritas pertama kamu sekarang.”
Devano menatap Della sejenak, lalu meletakkan sendoknya.
“Iya, Sayang.”
“Kalau ke depannya prioritas kamu bentrok gimana?”
“Maksudnya?”
“Iya, antara aku dan pekerjaan kamu. Kamu pilih siapa?”
Pertanyaan itu membuat Devano terdiam cukup lama. Ia tahu, ini bukan sekadar pertanyaan biasa. Ini tentang sebuah pilihan. Belum sempat Devano menjawab, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Devano langsung meraihnya dari dalam jas.
Papa – Kantor is calling …
“Papa aku telepon, Sayang.”
Della langsung menangkap perubahan ekspresi Devano.
“Diangkat aja, Yang,” ucap Della pelan. “Aku nggak apa-apa.”
Devano menatap layar ponselnya cukup lama. Ponselnya terus bergetar. Selang beberapa saat, tangannya mulai bergerak seolah ingin menjawab telepon tersebut, tetapi akhirnya panggilan itu terhenti dengan sendirinya.
“Keburu mati, Sayang. Mungkin nggak terlalu penting. Kita lanjut makan aja ya?”
Della mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Menjawab pertanyaan kamu tadi, aku pasti pilih kamu.”
“Yakin? Kalau pekerjaan kamu itu penting banget?”
“Aku yakin. Aku bakal tetap pilih kamu.”
Tak lama, ponsel Devano kembali bergetar.
Papa – Kantor is calling …
“Kamu perlu bukti?”
Tanpa menunggu jawaban Della, Devano langsung menolak panggilan tersebut.
“Kenapa di-reject? Kalau penting gimana?”
“Sekarang udah di luar jam kantor. Kalau aku jawab, pasti bakal panjang.”
“Nanti Papa kamu marah bagaimana?”
“Biar aku yang urus. Sekarang aku lagi quality time sama kamu. Nggak mau diganggu.”
“Aku sama sekali nggak nyangka. Ternyata kamu nekad juga.”
“Semuanya demi kamu.”
Devano tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Della hangat.
“Apa semuanya nggak terlalu berlebihan? Devano sampai berani reject panggilan Papa Exander. Kalau beliau marah bagaimana?”
“Kamu kenapa, Sayang?”
“Hmm … aku merasa ini terlalu berlebihan. Apa nggak sebaiknya kamu telepon balik Papa kamu?”
“Nggak perlu. Biar semua urusan kantor aku urus besok. Sekarang aku lagi menghabiskan waktu berdua bareng kamu.”
Comments
Post a Comment