Little Parents (Chapter 7)

Chapter 7 | Kehidupan Baru

Beberapa hari kemudian. Tepatnya tiga hari setelah Bima dan Aline melakukan tes kehamilan, mereka melangsungkan pernikahan mereka di sebuah gereja yang telah disiapkan oleh Karina dan kedua orang tua Bima.

“Aline Karina Putri, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”

“Bima Arkanda Afan, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”

Setelah pengucapan janji pernikahan, mereka saling menyematkan cincin nikah. Pendeta pun mulai meneguhkan dan mendoakan pernikahan mereka. Acara pernikahan mereka berlangsung kurang lebih satu jam.

“Lin, makasih ya kamu sudah mau jadi istriku. Semua janji yang aku sebutkan tadi akan aku tepati. Sekali lagi aku minta maaf telah membuatmu harus memasuki kehidupan berumah tangga lebih awal.”

“Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu mau bertanggung jawab sama aku dan calon anak kita. Masalah itu, nggak usah kamu pikirkan lagi. Sudah jadi bubur, Bim. Jadi kita pikirkan kedepannya saja. Kita jaga calon anak kita ini dengan baik sampai lahir ke dunia dengan selamat.”

“Baiklah.”

Bima mencium kening gadis itu, kemudian mengelus perut gadis itu.

“Papa pamit dulu ya, Nak?”

“Kamu mau pergi, Bim? Mau ke mana? Kita ‘kan baru saja menikah. Kamu nggak istirahat dulu?”

“Iya, Lin. Aku mau pergi cari kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kita. Aku nggak perlu istirahat.”

“Kamu yakin mau cari sekarang? Kenapa nggak besok-besok saja?”

“Nggak, Lin. Soalnya aku harus cari kerja lebih dari satu tempat. Kalau satu saja, nggak mungkin cukup untuk bayar kebutuhan kita dan biaya sekolahku untuk bulan depan.”

“Hmm… kamu benar. Uang sekolah kita ‘kan lumayan. Apa aku minta bantuan Mama Karina saja ya? Biar mama yang bayar uang sekolah kamu. Lagian aku ‘kan sudah nggak bisa sekolah.”

“Nggak perlu, Lin. Aku akan berusaha sendiri. Kamu percaya ‘kan sama aku?”

“Ya, sudah. Kamu berangkat sekarang? Nggak ganti baju dulu?”

“Gantilah, masa cari kerja pakai pakaian seperti ini.”

“Ya, kirain aku mau begitu.”

Bima mulai menanggalkan pakaian perlahan.

“Bim!”

“Ada apa?”

“Ganti bajunya bisa di kamar mandi? Aku nggak biasa lihat seorang lelaki ganti baju di depanku.”

“Kenapa? Kita sudah sah loh! Jadi apa yang salah?”

“Hmm… benar juga, tapi tetap saja aku nggak biasa.”

“Ya, biasakan. Toh kamu juga sudah pernah lihat. Jadi nggak usah malu-malu lagi. Kamu nggak kangen memangnya?”

“Nggak sama sekali! Cepat ganti bajunya. Aku merem saja deh.”

“Iya, iya terserah kamu. Kamu lucu juga ya kalau malu-malu. Mukanya merah.”

“Masa? Mukaku merah memangnya?”

“Lihat saja di kaca.”

Aline membuka matanya dan melihat ke arah kaca.

“Kamu benar. Ini semua gara-gara kamu, Bim!”

“Aku sudah selesai. Sekarang aku pamit ya?”

“Oke, Bim. Semoga kamu bisa segera dapat kerja.”

“Amin. Makasih doanya, Lin.”

Bima beranjak pergi untuk mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan, ia kembali ditanyai oleh para warga sekitar mengenai pernikahannya hari ini.

“Bim, kamu benar sudah nikah sama perempuan itu?”

“Iya, kenapa kami nggak undang ke acaranya?”

“Oh, pasti gara-gara married by accident ya? Astaga, Bim. Kok kamu bisa sih melakukan hal itu? Anak baik-baik dan berprestasi ternyata bisa rusak juga.”

Bim, sabar. Kamu jangan terpancing emosi. Ingat, mereka lebih tua dari kamu.

“Maaf ya, Ibu-Ibu. Semua itu urusan saya dan keluarga saya. Memang benar saya sudah menikah dengan perempuan yang bernama Aline. Saya permisi dulu.”

“Lah, kok pergi sih? ‘Kan kami nanyanya belum selesai?”

“Menurut Ibu-Ibu bagaimana?”

Married by accident sih. Kalau nggak, mana mungkin mereka mengadakan acara tertutup. Sekarang kita langsung ke rumah Bu Desti saja untuk konfirmasi. Ada-ada saja ya kelakuan anak sekarang.”

“Iya, ngeri-ngeri. Aku harus lebih ngawasin si Andi dan Bella.”

“Setuju, Bu. Harus hati-hati sama pergaulan sekarang.”

Setelah perbincangan tersebut, ibu-ibu tersebut langsung menghampiri kediaman Bima dan keluarganya. Mereka pun langsung menanyakan perihal pernikahan Bima.

“Apa benar si Bima udah nikah sama gadis itu, Bu? Kok kami nggak diundang sih?”

“Iya, kita ‘kan tetanggaan masa nggak undang-undang sih, Bu.”

“Hmm… maaf Ibu-Ibu. Pernikahan Bima dan istrinya memang sengaja dibuat tertutup atas permintaan besan saya.”

“Alasannya apa, Bu Desti? Apa Bima dan istrinya… MBA ya? Maaf, loh kalau aku bicara gini. Apa benar?”

“Iya, Bu. Kalau memang benar, kami turut prihatin atas kejadian ini. Kami hanya mau dengar kronologisnya seperti apa.”

“Iya, biar bisa lebih mengawasi anak kami lebih ketat lagi. Kronologisnya gimana? Bisa langsung dipanggil saja istrinya Bima? Kami mau dengar langsung.”

“Cukup, Ibu-Ibu. Jangan bahas masalah ini lagi. Kasihan mereka berdua, Bu. Mohon pengertiannya.”

“Ah, Bu Desti kami hanya mau tahu sedikit saja kejadiannya. Masa nggak boleh?”

“Ibu-ibu, sekali lagi saya minta maaf. Saya nggak bisa beritahukan detilnya seperti apa. Saya akui memang Bima dan istrinya telah melakukan kesalahan, tapi janganlah kita menghakimi mereka. Kasihan mereka.”

Aline yang sedang membaringkan diri di kamar, mendengar semua obrolan itu. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi sekarang. Setelah mendengar ibu-ibu tersebut pulang, Aline memutuskan untuk menghampiri sang mertua.

“Bu,” panggil Aline.

“Eh, Aline. Maaf, istirahat kamu jadi terganggu gara-gara tadi ada tamu.”

“Tidak apa, Bu. Aline di kamar juga nggak tidur, hanya berbaring saja. Boleh Aline bicara sama Ibu?”

“Tentu, boleh. Apa yang mau kamu bicarakan? Ayo, duduk di sini.”

“Aline mau minta maaf. Gara-gara Aline dan Bima, Ibu dan bapak jadi bahan perbincangan para tetangga. Ibu dan bapak pasti malu banget.”

“Ibu sudah maafkan kesalahan kamu dan Bima. Jadi kamu nggak perlu minta maaf lagi. Memang masalah ini sudah menjadi perbincangan para tetangga di sini, tapi Aline nggak perlu khawatir. Di sini sudah biasa seperti ini. Nanti juga hilang sendiri seiring berjalannya waktu. Anak ngompol di sini juga bisa jadi perbincangan, Nak. Jadi nggak perlu merasa bersalah.”

“Ngompol saja jadi bahan perbicangan? Benarkah?”

“Benar, Nak. Di sini memang seperti itu. Nanti juga Aline akan terbiasa.”

“Oh, gitu. Unik juga ya tetangga di sini. Tetangga di rumah Aline sih pada cuek. Mungkin karena jarak rumahnya agak berjauhan kali ya?”

“Ya, begitulah. Di sini ‘kan rumahnya berdempetan dan dindingnya pun nggak begitu tebal, jadi kalau teriak-teriak di rumah ini bisa terdengar sampai tetangga.”

“Iya, Bu. Sekarang apa yang bisa Aline bantu? Aline bosan nih di kamar terus.”

“Hmm… apa ya? Hari ini lebih baik Aline istirahat dulu. Pasti capek ‘kan habis acara tadi. Besok Aline bisa bantu Ibu jualan nasi kuning. Apa Aline mau?”

“Boleh, kalau hari nggak jualan?”

“Nggak, libur dulu. Besok baru jualan lagi.”

“Ya sudah, Aline ke kamar lagi ya, Bu? Mau lanjut istirahat.”

“Oke, Nak. Selamat istirahat. Kalau butuh apa-apa, panggil saja ya?”

“Iya, Bu.”

—oOo—

Sekitar pukul 20.00, Bima baru pulang ke rumah. Kedatangannya langsung disambut sang istri yang semula sedang menonton televisi.

“Akhirnya kamu pulang, Bim. Aku sudah nungguin dari tadi. Gimana kerjaannya sudah dapat?”

“Belum, Lin, tapi aku nggak akan nyerah.”

“Ya sudah, nggak apa-apa. Aku tahu kamu nggak akan nyerah. Oh, iya kamu sudah makan malam?”

“Belum, Lin. Tadi belum sempat. Makan malamnya sudah dibereskan ya?”

“Hmm… sudah, tapi kalau kamu mau makan bisa aku panaskan. Mau makan sekarang?”

“Boleh, Lin. Ayo, kita ke ruang makan!”

Sambil memanaskan makanan untuk Bima, Aline menceritakan aktivitasnya seharian di rumah.

“Gimana kamu betah tinggal di sini?”

“Lumayan, aku sudah mulai bisa beradaptasi. Tetangga kamu seru juga ya?”

“Seru bagaimana?”

“Kamu tahu Bu Ratna?”

“Tahu, Bu Ratna tetangga seberang ‘kan?”

“Iya, tadi Bu Ratna datang ke sini. Aku ngobrol banyak. Bu Ratna orangnya seru loh!”

“Oh, ya? Kalian ngobrol apa?”

“Dia cerita banyak hal. Seru deh pokoknya. Selain itu, dia juga cerita tentang masa lalunya yang kurang lebih sama seperti kita alami sekarang ini.”

“Maksud kamu Bu Ratna pernah hamil juga sama pacarnya?”

“Iya, hanya saja pacarnya nggak tanggung jawab. Akhirnya Bu Ratna membesarkan anaknya seorang diri. Memangnya kamu nggak tahu?”

“Nggak, soalnya dia nggak pernah cerita ke aku. Mungkin karena aku cowok jadi mungkin dia nggak nyaman.”

“Bisa jadi. Oh, iya ini makanannya sudah aku panasin. Kamu bisa makan sekarang.”

“Makasih, Sayang.”

“Sama-sama.”

To be continued... ©2023 WillsonEP

Comments

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)