Little Parents (Chapter 8)
Chapter 8 | Ngidam
Waktu telah menunjukkan pukul 22.10.
Bima tengah berkumpul bersama ketiga sahabatnya, Edo, Reyhan, Adrian. Setelah
pulang kerja, Bima memutuskan untuk makan martabak bersama mereka.
“Akhirnya lo ada waktu juga, Bim.
Sudah lama banget kita nggak kumpul-kumpul seperti ini. Gimana keadaan istri
lo? Sudah berapa bulan kehamilannya?”
“Aline baik-baik saja. Sekarang
sudah jalan tiga bulan.”
“Syukurlah, kalau kerjaan lo
selama ini gimana?”
“Aman. Semuanya tetap terkendali,
Do.”
“Gue salut sama semangat lo, Bim.
Lo berjuang banget sampai ngambil kerjaan dua tempat sekaligus. Sore kerja di
Bengkel Sepeda Ucok, malam kerja di Restoran Destania,” tambah Adrian
“Ya, begitulah. Namanya juga cari
uang, apalagi sejak beasiswaku dicabut. Aku harus kerja keras. Oh, iya ini
cicilan buat bulan ini ya, Dri!”
“Oke, gue terima. Sebenarnya
santai saja, Bim. Bayarnya nanti juga nggak apa-apa.”
“Aku nggak enak sama kamu.
Namanya hutang harus segera dibayar.”
“Kenapa lo nggak terima saja
tawaran Aline, Bim? Biaya sekolah lo ditanggung sama Nyokap Aline, jadi lo tinggal
biayain kehidupan keluarga lo. SPP sekolah kita itu lumayan loh. Maaf, maaf
gaji lo di restoran sama bengkel sepeda berapa?”
“Tidak begitu besar. Dari restoran
kisaran 1,2 sampai 1,5 juta. Kalau bengkel tergantung rame nggaknya. Kalau rame
bisa dapet 25 ribu sampai 50 ribu. Kalau sepi, nggak dapet. Kasihan juga Mang
Ucok. Kamu tahu sendiri bengkel sepedanya ‘kan kecil. Aku hanya bisa
bantu-bantu saja di sana.”
“Nah, makanya sebaiknya kamu
pikirkan terima tawaran Aline. Oh, iya lo sudah bawa Aline ke dokter
kandungan?”
“Belum. Memangnya harus ya, Rey?”
“Haruslah, Bim. Udah masuk tiga
bulan ‘kan?”
“Iya, harus. Kemarin baru saja
gue antar Nyokap periksa soalnya Papa gue nggak bisa antar.”
“Oh, gitu. Nanti deh gue ajak dia
ke dokter.”
Beberapa saat kemudian. Bima
mendapatkan pesan baru dari Aline.
Aline ❤️
Bim, kamu di mana? 22:17
Sudah jalan pulang? 22:17
Aku nitip martabak ya?
Martabak telor. Aku lagi pengen banget. Please, beliin. 22:18
“Aline pengen martabak? Tumben
banget.”
“Ya, lo beliin lah, Bim. Ngidam
tuh namanya.”
“Ngidam?”
“Iya, lo harus turuti
keinginannya, kalau nggak nanti anak lo ileran.”
“Benarkah? Bukannya itu hanya
mitos?”
“Benar atau nggaknya nggak
penting, Bim. Nggak ada salahnya bahagiain istri.”
“Benar juga. Ya, sudah aku beliin
deh, tapi aku minjem uang kamu dulu ya, Rey? Uangku habis.”
“Oke, oke, gue traktir saja ya?
Kasihan banget sih sahabat gue yang satu ini.”
“Nggak perlu, nanti gue ganti.”
Bima tiba di rumah pukul 23.00.
“Lin, aku pulang,” ucap pria itu
sambil memasuki rumah perlahan.
“Akhirnya kamu pulang juga, Bim.
Mana martabaknya?”
“Ini ada. Aku beliin spesial buat
kamu.”
Aline memeluk sang suami dan
langsung mencium pipinya.
“Makasih, Bim. Kamu pengertian
banget. Kita makan bareng ya? Ayo!”
“Oke, tapi aku dikit saja ya? Tadi
aku sudah makan di tempat bareng Edo, Reyhan, sama Adrian.”
“Oh, kalian habis kumpul?”
“Iya, sudah lama nggak. Kamu
nggak marah ‘kan?”
“Kenapa harus marah? Ya, nggak
apa-apa dong.”
Mereka pun beranjak menuju ruang
makan untuk menikmati martabak yang telah dibeli. Sambil makan, Aline pun menceritakan
aktivitasnya seharian. Tak lupa, ia juga menanyakan pekerjaan Bima hari ini.
“Pasti kamu capek banget ya?
Habis makan, kamu langsung bersih-bersih dan istirahat ya?”
“Iya, iya, tapi aku mau nungguin
kamu dulu beres makan.”
“Kenapa nungguin aku? Ini udah
malam. Kamu mandi dulu sana.”
“Ya, sudah. Kamu nggak apa-apa
aku tinggal mandi?”
“It’s okay, Bim. Habis itu
kamu istirahat.”
“Iya, aku mandi dan istirahat.
Besok aku shift siang.”
“Oh, gitu. Selamat mandi dan
istirahat ya?”
“Thanks, Lin.”
—oOo—
Baru satu jam Bima tidur dengan
pulas. Tiba-tiba saja ia mendengar Aline membangunkan dia secara perlahan.
“Bim, Bim, bangun,” bisik Aline pada
kuping sang suami.
Bima yang merasa terusik langsung
merespon dengan nada sedikit emosi.
“Ada apa lagi sih, Lin? Kamu
ganggu aja aku lagi tidur.”
“Maaf, Bim. Tiba-tiba saja… aku
pengen makan mangga. Kamu bisa tolong cariin?”
“Nyari mangga jam segini? Mana
ada tukang buah yang buka jam segini. Kamu ada-ada saja deh. Besok saja ya
belinya? Sekarang kamu tidur, besok kita cari.”
“Nggak bisa, Bim. Aku maunya
sekarang. Kamu mau anak kamu ileran?”
“Oke, aku pergi cari. Kamu tunggu
di rumah saja.”
Bima beranjak memakai jaket dan
kunci motor yang baru saja dibeli sebulan lalu—menggunakan tabungannya. Meskipun
bekas, motor tersebut masih dalam kondisi layak jalan.
“Nyari mangga di mana ya? Jam
segini pasti tukang buah sudah pada tutup. Ternyata susah juga ya punya istri
yang sedang hamil. Ngidamnya keterlaluan."
Tiba-tiba saja Bima teringat
pernah melihat pohon mangga sewaktu mengantarkan jenazah tetangganya. Pohon
tersebut berdiri di sekitar Tempat Pemakaman Umum Cempaka. Bima pun memutuskan
untuk pergi ke sana.
“Nyari mangga gini amat. Haruskah
aku metik mangga di kuburan tengah malam begini? Permisi, saya izin metik
mangga untuk istri saya ya? Istri saya lagi ngidam mangga.”
Bima beranjak menghampiri pohon
tersebut dan mulai memajat untuk memetik beberapa buah mangga muda yang ada.
Sedangkan Aline masih tetap terjaga menunggu suaminya pulang.
“Bim, kamu di mana? Apa kamu
sudah dapat mangganya?”
Sekitar dua jam menunggu,
akhirnya lelaki itu pulang membawa sekantong plastik berisi mangga dengan wajah
sedikit lebam-lebam.
“Kamu kenapa, Bim? Kok wajahmu
lebam-lebam seperti ini?”
“Hmm… aku baik-baik saja, Lin.
Tadi hanya ada sedikit salah paham. Sekarang lebih baik kamu makan mangganya
lalu istirahat.”
“Aku obatin dulu lebam kamu, baru
aku makan mangganya.”
Aline beranjak mengambil kotak
P3K, kemudian ia menyuruh lelaki itu duduk di ruang makan untuk diobati.
“Aw, pelan-pelan, Lin.”
“Iya, ini sudah pelan, Bim. Sekarang
kamu cerita apa yang sebenarnya terjadi?”
“Tadi aku ke Tempat Pemakaman
Umum Cempaka.”
“Ngapain?”
“Metik mangga ini buat kamu.”
“Terus?”
“Ada penjaga makam yang lihat dan
salah paham dikiranya aku mau curi jenazah anak gadis orang untuk pesugihan. Jadi
aku sempat dikeroyok.”
“Oh, gitu. Kasihan banget suamiku
ini. Maaf, gara-gara aku, kamu jadi seperti ini.”
“Tidak apa. Ini hanya luka kecil
kok. Kamu nggak perlu merasa bersalah. Ini sudah menjadi tugas aku sebagai
suamimu.”
“Ah, sosweet banget sih
kamu, Bim.”
To be continued... ©2023 WillsonEP
❤️❤️Awww😘
ReplyDelete