Little Parents (Chapter 10)
Chapter 10 | Make Over
Aline langsung meminta Bima mandi
terlebih dahulu sebelum ia akan melakukan make over terhadap Bima.
Beberapa saat kemudian, Bima keluar kamar mandi hanya menggunakan celana dalam boxer.
Aline tersenyum melihatnya.
“Kamu lucu banget, Bim. Sekarang
kamu duduk biar aku make over kamu.”
“Kenapa di make over-nya
harus begini? Kenapa aku nggak pakai baju dulu saja?”
“Ya, sengaja. Aku mau
menyemprotkan deodorant dan beberapa parfum yang baru saja aku beli
barusan. Aku juga sudah membelikan kamu beberapa baju untuk kamu pakai nanti.”
“Astaga, Lin. Kamu nggak usah
repot seperti ini. Kamu pasti beli yang bermerek ya? Pasti harganya mahal.
Sayang uangnya.”
“Tidak apa. Anggap saja ini
hadiah buat kamu untuk pernikahan kita yang ketiga bulan.”
“Hadiah? Memangnya setelah menikah,
bulanan juga harus kasih hadiah ya? Setahuku tahunan.”
“Nggak wajib sih. Semampunya aja,
Bim. Jadi kamu nggak ngasih juga nggak apa-apa.”
Aline mulai menyemprotkan deodorant
pada kedua ketiak Bima. Setelah itu, baru Aline menyemprotkan parfum pada
beberapa titik di tubuh suaminya.
“Nah, masalah wangi sudah.
Sekarang kamu pakai kaos ini.”
“Ini ‘kan kaos mahal, Lin? Kamu
beli ini untukku?”
“Iya, kamu pakai ya? Biar mama
nggak bisa hina kamu lagi.”
“Janganlah, Lin. Aku nggak enak.
Kalau mama tahu, pasti dia bilang aku manfaatin uang kamu. Aku pakai baju yang
tadi saja ya?”
“Jangan, Bim. Kamu pakai kaos
ini. Masalah Mama biar aku yang urus. Lagian semua yang aku beli buat kamu,
uang hasil jerih payahku sendiri. Jadi mama nggak boleh protes.”
“Jerih payah kamu sendiri?
Memangnya kamu bisnis apa? Kok aku nggak tahu?”
“Aku buka jasa membuat
vektor-vektor gitu dan hasilnya lumayan.”
“Oh, ya? Kok kamu nggak pernah
cerita?”
“Awalnya sih hanya iseng, jadi
ngapain kasih tau kamu. Eh, ternyata bisa jadi uang.”
“Oh, gitu. Ya, sudah aku pakai ya
bajunya?”
“Dari tadi atuh. Lama banget.”
Bima memakai kaos berwarna putih
yang diberikan Aline. Aline tersenyum melihat sang suami kini lebih tampan dan
rapi dari sebelumnya.
“Bagus, kamu jadi makin ganteng,
Bim.”
“Masa sih? Kamu terlalu
berlebihan.”
“Aku serius, Bim. Kalau kamu
seperti ini terus, pasti kamu bisa kok jadi mantu idamannya Mama. Sekarang kita
makan siang yuk! Sudah jam segini.”
“Kamu nggak mandi dulu? Masa aku
sudah wangi, kamu nggak mandi?”
“Iya, juga ya? Nanti mantu
diterima, anak dibuang karena bau. Aku mandi dulu deh. Kamu tunggu di sini.”
“Oke, Lin. Aku tunggu. Mandinya
jangan lama.”
Selesai Aline mandi, mereka
berdua turun untuk makan siang.
“Eh, Non Aline sama Den Bima
sudah turun. Mau makan siang ya? Bibi sudah siapkan.”
“Iya, Bi. Makasih. Mama mana?”
“Nyonya pergi ke kantor. Katanya
ada keperluan penting yang harus diselesaikan.”
“Oh, gitu. Ayo, Bim! Duduk jangan
malu-malu anggap saja rumah sendiri.”
“Makasih, Lin.”
“Hmm… Kok Den Bima kayaknya ada
yang beda ya? Makin ganteng saja deh. Non, ini suaminya diapain? Kok jadi
ganteng gini?”
“Aline make over, Bi.
Menurut Bibi bagaimana? Apa Bima sudah pantas bersanding dengan Aline?”
“Oh, gitu. Pantes agak beda.
Kalau menurut Bibi, Den Bima sudah cocok kok meskipun tanpa didandani seperti
itu. Kalian berdua memang sudah serasi.”
“Seriusan, Bi?”
“Serius, Den. Bibi doain semoga
Nyonya Karina bisa terima Den Bima secepatnya.”
“Amin, Bi. Makasih doanya.”
Mereka mulai menyantap makanan
yang telah disediakan oleh Bi Tum. Sementara itu, Bi Tum beranjak ke dapur
untuk mencuci peralatan masak.
—oOo—
Saat ini, Bima dan Aline tengah
menonton di ruang keluarga dengan santai. Bima duduk di sofa, sementara kepala
Aline berada di pangkuan Bima.
“Bim, makasih ya kamu sudah
mengizinkan aku tinggal di sini lagi.”
“Ya, sama-sama. Kamu pasti kangen
‘kan sama suasana rumah ini dan tinggal bareng Mama.”
“Tentu dong. Kangen banget. Kamu
betah nggak tinggal di sini?”
“Aku belum tahu. Belum juga
sehari.”
“Iya, juga ya? Besok deh aku
tanya lagi.”
Mereka melanjutkan menonton
tayangan WEFLIX, salah satu platform menonton yang tersedia. Aline
merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu berdua dengan sang suami.
Biasanya sang suami tidak memiliki waktu bersama karena harus bekerja dari sore
hingga malam. Waktu libur seperti ini harus dimanfaatkan dengan baik.
“Bim, kamu besok kerja lagi?”
“Iya, Sayang. Aku harus tetap
cari uang untuk keluarga kecil kita.”
“Aku paham. Oh, iya bagaimana
dengan tawaranku soal biaya sekolah kamu? Sudah kamu pikirkan?”
“Sebelumnya aku berterima kasih
atas tawarannya, Lin. Hanya saja…”
“Kenapa?”
“Aku takut mama merendahkan aku
lagi seperti tadi. Aku memang nggak punya apa-apa, tapi aku nggak mau harga
diriku diinjak-injak orang lain. Aku masih bisa berusaha.”
“Ya, sudah. Aku nggak maksa. Kita
lanjut lagi nontonnya?”
“Iya, kita ganti judul lain.”
Tak terasa waktu telah
menunjukkan pukul 15.00. Karina yang baru saja pulang langsung menghampiri
Aline dan Bima di ruang tengah. Karina menatap Bima sinis.
“Bagus sekali ya pria yang
katanya bilang mau tanggung jawab malah santai-santai di sini. Kamu nggak cari
uang? Atau uang yang kamu punya sudah banyak?”
“Maaf, Ma. Kebetulan hari ini
Bima libur kerja, besok baru mulai kerja lagi.”
“Oh, gitu? Seharusnya libur itu
bukan santai-santai, bisa ‘kan bersih-bersih rumah ini atau nggak kamu cari
pekerjaan lain untuk tambah-tambah.”
“Ma, cukup. Jangan bicara seperti
itu sama Bima. Dia suamiku, Ma. Tolong hargai dia.”
“Sayang, kamu nggak usah ikut
campur. Mama hanya mengingatkan dia agar tidak berhenti cari uang. Hidup itu
butuh uang yang banyak, nggak hanya dengan cinta. Kamu paham ‘kan, Bim?”
“Bima paham, Ma. Bima nggak akan
lupa soal itu.”
“Sekarang kamu lebih baik cabut rumput-rumput
dan bersihkan daun-daun yang berserakan di halaman belakang. Saya kasih waktu
kamu dua jam harus sudah beres. Mengerti?
“Baiklah, Ma. Bima akan bereskan
semuanya.”
“Ma, Bima bukan tukang kebun. Bim,
kamu nggak usah lakukan hal itu.”
“Nggak apa-apa, Sayang. Apa
salahnya menantu bantu Mama mertua.”
“Iya, Sayang. Bima saja nggak
keberatan. Sudahlah biar dia bersihkan. Kamu ikut Mama, Mama mau bicara sama
kamu. Ayo!”
Karina mengajak Aline ke
kamarnya. Sementara itu, Bima segera menuju halaman belakang untuk melaksanakan
perintah sang mama mertua.
“Kenapa Tante Karina jadi
bersikap seperti ini? Perasaan dulu dia tidak begini. Apa mungkin dia masih
marah gara-gara aku menghamili Aline? Ah, memang aku ini bodoh sekali!
Seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Orang tua mana yang nggak marah kalau
anaknya dihamili pacarnya yang belum terikat pernikahan. Ini resiko yang harus
kamu terima, Bim.”
To be continued... ©2023 WillsonEP
Sabar, Bim. 😭😭
ReplyDelete