My Love Destiny (Chapter 6)

Chapter 6

Begitu Keenan mendapatkan live location dari Novia, ia langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan. Ia pun meminjam salah satu motor karyawan agar lebih cepat sampai lokasi Novia berada. Sementara itu, di sisi lain Aiden mulai mendesak Novia agar gadis itu segera turun dari mobilnya.

“Nov, turun sekarang juga! Aku perlu bicara sama kamu!”

“Apa lagi yang perlu dibicarakan, Aiden? Bukannya semua udah jelas?”

“Apanya yang jelas? Kamu mutusin aku secara sepihak. Keluar, Novia atau aku pecahin kaca mobil kamu!”

“Jangan, iya aku keluar sekarang!”

Novia beranjak turun.

“Kamu mau jelasin apa lagi? Aku nggak punya banyak waktu.”

“Aku masih sayang sama kamu. Aku mau hubungan kita seperti dulu lagi.”

“Aku nggak bisa menjalin hubungan sama lelaki brengsek kayak kamu!”

“Aku nggak brengsek seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham.”

“Salah paham gimana? Jelas-jelas aku lihat kamu main perempuan! Nggak hanya satu lagi! Lebih baik kamu lupakan aku dan cari perempuan-perempuan itu!”

“Perempuan-perempuan itu hanya hiburan. Aku sama sekali nggak cinta sama mereka. Cintaku hanya buat kamu, Novia Alexandra.”

“Aku nggak percaya. Singkirkan mobil kamu, aku mau pergi.”

“Oh, nggak bisa. Kamu harus ikut aku. Kamu itu punya aku.”

“Kamu salah! Aku udah menikah! Aku milik Mas Keenan.”

“Menikah? Jangan berani-beraninya kamu bohongi aku. Kamu pasti bohong!”

“Aku benar-benar udah menikah! Lihat cincin di jari manisku ini.”

“Ini nggak mungkin! Kenapa kamu bisa-bisanya menikah dengan orang lain? Kamu selingkuhi aku? Dasar perempuan kurang ajar!” emosi Aiden sambil memukul Novia.

“Sekarang jawab aku! Siapa lelaki itu? Akan kuhabisi dia! Berani-beraninya dia mengambil milikku!” lanjut lelaki itu penuh dengan kemarahan sambil mencekik leher Novia.

“Jawab, siapa lelaki itu? Keenan siapa?” tanya Aiden lagi dengan emosi. “Kenapa diam kamu?”

“Gimana aku mau jawab kalau kamu cekik aku seperti ini? Kamu benar-benar gila! Ini yang aku nggak suka dari kamu. Kamu itu kasar banget, Aiden.”

“Kalau nggak mau dikasarin, makanya jangan macem-macem! Baik, aku lepas. Sekarang jawab pertanyaanku! Siapa lelaki itu?”

“Saya lelaki itu. Kamu mau apa? Jangan berani-beraninya kasar sama istri saya!”

“Oh, jadi kamu yang namanya Keenan? Berani-beraninya kamu menikahi perempuan yang saya cintai!”

“Novia itu bukan siapa-siapa kamu, Aiden. Dia sekarang sudah menjadi milik saya. Jadi kamu jangan berani-beraninya mengganggu kenyamanan istri saya. Nov, sekarang kamu masuk mobil. Biar lelaki ini saya yang urus.”

“Hati-hati, Mas.”

“Iya, kamu nggak perlu khawatir. Saya bisa atasi ini semua.”

“Waw, ada Mas Keenan yang pemberani. Kamu yakin mau lawan saya? Kamu belum tahu siapa saya.”

“Tentu. Saya nggak peduli siapa pun kamu. Kalau kamu berani ganggu istri saya, saya pasti akan bikin perhitungan denganmu.”

“Keren, Mas Keenan. Jangan menyesal kalau nanti kamu kalah.”

Aiden langsung memukul pria di hadapannya pada bagian perut serta kedua pipi.

“Kenapa kamu tidak melawan? Kamu tidak bisa berkelahi?”

“Kamu jangan sombong dulu. Saya hanya belum siap aja.”

Keenan langsung membalas pria bernama Aiden itu dengan beberapa pukulan hingga lelaki itu tumbang.

“Sekarang siapa yang tidak bisa berkelahi? Sekarang saya kasih kesempatan kamu pergi dari sini dan jangan ganggu istri saya lagi.”

“Kali ini kamu boleh menang, Mas Keenan tapi urusan kita belum selesai. Saya akan terus memperjuangkan cinta saya. Novia akan menjadi milik saya.”

“Itu nggak akan terjadi. Novia itu istri saya, takdir cinta saya. Lebih baik kamu lupakan Novia dan cari perempuan lain.”

“Nggak akan! Saya nggak akan nyerah! Novia itu milik saya!”

Aiden akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Keenan langsung menghampiri Novia di mobilnya.

“Kamu baik-baik saja, Nov? Apa yang lelaki itu lakukan?”

“Hmm … aku baik-baik saja.”

“Kamu yakin? Itu leher kamu merah. Kamu dicekik lelaki itu?”

“Yakin, dia sudah biasa melakukan hal itu padaku.”

“Mau ke rumah sakit untuk diperiksa?”

“Nggak perlu. Aku mau langsung pulang. Oh, iya kamu kok cepet banget ke sininya? Naik apa?”

“Motor karyawan saya. Saya pinjam tadi. Kalau naik mobil, takutnya nggak keburu.”

“Makasih ya, Mas Keenan.”

“Sama-sama. Sudah menjadi tugas saya melindungi istrinya dari bahaya. Sekarang kita pulang ya? Aku kawal dari belakang.”

“Oke.”

“Kamu hati-hati nyetirnya, Nov.”

“Iya.”

Setelah berpamitan dengan sang istri, Novia kembali menaiki motor karyawannya dan mengikuti mobil Novia dari belakang. Tepat pukul 14.00, Keenan dan Novia tiba di rumah.

“Sekali lagi thanks udah aku tadi.”

“Iya, Nov. Sama-sama. Oh, iya kamu ngapain bawa kotak P3K?”

“Buat obatin kamu. Pipi kamu agak memar. Aku obatin ya?”

“Ini nggak perlu diobatin, Nov. Nanti juga sembuh sendiri. Kamu nggak perlu repot-repot.”

“Nggak ngerepotin kok. Pokoknya ini harus segera diobatin. Kita duduk di sebelah sana ya?”

“Iya.”

Novia mulai mengobati memar Keenan dengan obat salep.

“Pelan-pelan, Nov. Sakit tau.”

“Iya, ini juga udah pelan. Oh, iya habis ini kamu balik ke kantor lagi?”

“Nggak. Saya mau jagain kamu di sini. Takutnya Aiden ganggu kamu lagi.”

“Dia nggak mungkin datang ke sini. Memangnya kerjaan kamu hari ini udah selesai semua?”

“Masalah kerjaan bisa dikerjakan lain waktu, Nov. Bagi saya yang terpenting itu kamu baik-baik saja.”

Tiba-tiba saja perut Keenan berbunyi, menandakan lelaki itu kelaparan karena belum sempat makan siang.

“Kamu belum makan siang?”

Keenan hanya bisa tersenyum.

“Tadi belum sempat. Begitu dapat kabar dari kamu, saya langsung pergi.”

“Ya, sudah. Kamu mau makan siang apa? Biar aku buatin.”

“Hmm ... kamu bisa bikin kerak telor?”

“Kerak telor aku belum pernah bikin sih. Kamu mau kerak telor? Aku pesenin online aja gimana? Kalau aku bikin sekarang, takutnya rasanya nggak sesuai di lidah kamu.”

“Ya, sudah. Pesan online aja.”

“Oke, aku pesan sekarang.”

Sekitar satu jam kemudian, pesanan kerak telor Novia tiba. Novia langsung menghampiri ojol yang mengantar.

“Ini pesanan kerak telornya ya, Bu.”

“Oke, Pak. Terima kasih ya.”

“Sama-sama. Jangan lupa bintang limanya.”

“Siap, Pak.”

“Saya permisi. Selamat menikmati makanannya.”

Setelah ojol tersebut pergi, Novia langsung menyiapkan kerak telor yang dibeli ke piring.

“Mas Keenan, ini kerak telornya sudah datang.”

“Iya, Sayang. Sebentar saya turun.”

Tak lama, sosok Keenan muncul dan mulai menuruni tangga. Lelaki itu baru saja selesai mandi.

“Kamu habis mandi?”

“Iya. Hari ini gerah banget. Kamu nggak mandi?”

“Nanti ah. Aku mau makan kerak telor dulu, baru deh mandi.”

“Oh, kamu beli juga.”

“Iya, dong. Kalau beli satu rugi ongkirnya.”

“Bener juga. Ya, udah kita makan bareng ya? Bytheway kamu beli kerak telor yang di mana?”

“Kerak telor langgananku, Kerak Telor Pak Tasmin.”

“Oh, kerak telor yang di Jalan Kencana ya?”

“Iya, kamu tau?”

“Ya, tau langganan saya juga, tapi saya lebih sering beli kerak telor dekat CMTV, Kerak Telor Pak Karim.”

“Enakan mana?”

“Mirip sih, tapi saya lebih suka Kerak Telor Pak Karim. Kapan-kapan saya bawain deh buat kamu.”

“Hmm ... nggak perlu bawain. Nanti aku aja ke CMTV. Kalau dibawa pulang keburu dingin dong.”

“Ide yang bagus. Makan kerak telor sama kamu di ruangan saya. Kapan kamu mau ke CMTV?”

“Kapan-kapan deh. Kalau aku nggak sibuk.”

“Besok gimana?”

“Kalau besok akunya nggak bisa. Aku ada meeting film terbaru. Kapan-kapan ya?”

“Ya, sudah. Saya ikut jadwal kamu kapan bisanya. Oh, iya saya boleh tanya sesuatu, Nov?”

“Kamu mau tanya apa?”

“Saya mau tanya bagaimana cara supaya kamu jatuh cinta sama saya?”

Novia menggeleng.

I don’t know. Mungkin aku nggak akan jatuh cinta sama siapapun. Aku trauma sama yang namanya cinta. Sorry ya?”

“Saya akan berusaha menyembuhkan trauma itu, Nov. Apapun caranya.”

To be continued … ©2024 WillsonEP
Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya. Terima kasih udah mampir.☺️

Comments

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)