My Love Destiny (Chapter 7)

Chapter 7

Hari ini tepat satu bulan pernikahan Keenan dan Novia. Untuk merayakan momen ini, Keenan telah melakukan pemesanan untuk makan malam romantis di sebuah hotel ternama. Selain itu, Keenan sudah menyiapkan sebuah dress yang nantinya akan dipakai sang istri untuk makan malam tersebut. Baru saja kurir yang mengantar mengabari bahwa dress tersebut telah diterima oleh Novia. Tak lama, Novia pun langsung menghubungi Keenan.

“Halo, Mas.

“Halo, Nov.”

“Tadi aku baru dapat paket. Kamu beliin aku dress?”

“Iya, Nov. Dress itu memang buat kamu.”

“Buat apaan, Mas?”

“Nanti kamu pakai ya buat nanti malam.”

“Nanti malam? Kamu mau ajak aku ke mana?”

“Makan malam romantis, Sayang, untuk merayakan satu bulan pernikahan kita.”

“Memangnya harus dirayakan? Aku rasa nggak perlu berlebihan, Mas.”

“Ini wajib. Saya sudah booking tempatnya. Kamu mau ya? Hanya makan malam aja.”

“Okay, kamu pulang jam berapa?”

“Sebentar lagi saya pulang. Kamu boleh siap-siap dari sekarang.”

“Iya, iya. Aku siap-siap sekarang. Kamu juga siap-siap dulu ‘kan?”

“Iya, pulang ke rumah saya juga mandi dulu. Baru deh kita berangkat Udah dulu ya, Nov.”

“Okay, Mas. Hati-hati di jalan. See you.”

Setelah panggilan berakhir, Keenan segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan menuju basement. 40 menit berlalu, Keenan tiba di rumah. Kedatangannya langsung disambut oleh sang istri yang telah siap pergi. Keenan sungguh terpukau melihat kecantikan Novia telah memakai dress pemberiannya.

“Ini kamu, Nov? Cantik banget. Kamu suka dress-nya?”

“Ah, Mas Keenan bisa aja. Aku suka dress-nya. Thanks.”

“Sama-sama. Saya mandi dulu ya? Nanti kita telat lagi.”

“Memangnya kamu booking untuk jam berapa?”

“Jam 7 malam di Moonlight Hotel & Resto.

“Masih keburu kok. Asal Mas mandinya jangan lama-lama.”

“Iya, nggak lama. Beri saya waktu 10 menit.”

Selesai Keenan mandi, mereka pun berangkat menuju Moonlight Hotel & Resto.

“Nov, boleh saya tanya sesuatu?”

“Kenapa harus izin dulu sih? Tanya aja langsung. Mas, mau tanya apa?”

“Apa lelaki itu masih ganggu kamu?”

“Aiden? Beberapa kali pernah telepon aku …”

“Terus kamu angkat?”

“Nggaklah, aku udah nggak mau berhubungan sama dia. Aku udah blokir nomornya.”

“Bagus itu. Saya nggak mau kamu diganggu sama lelaki itu. Kalau kamu diganggu, jangan sungkan bilang sama saya. Saya akan urus lelaki itu.”

“Iya, udah ah jangan bahas dia lagi. Aiden hanya masa lalu.”

“Memang, karena masa depan kamu ya saya, Keenan Aditya Hendrawan. Apa kamu sudah mencintai saya, Nov?”

Novia terdiam. Jujur, sebenarnya Novia mulai merasa nggak enak setiap Keenan menanyakan hal tersebut. Entah sudah berapa kali Keenan menanyakan hal ini. Novia hanya bisa menjawab belum atau meminta maaf.

“Kalau jatuh cinta sepertinya belum, Mas, tapi aku sudah mulai menyukai Mas Keenan. Aku nyaman setiap dekat Mas Keenan.”

“Kamu serius, Nov? Akhirnya ada progress juga. Saya senang dengarnya.”

“Aku serius. Maaf, kalau aku baru bilang sekarang.”

It’s okay, Nov. Sejak kapan kamu mulai menyukai saya?”

“Aku nggak tahu pastinya. Seminggu terakhir ini kayaknya.”

Okay, terima kasih atas kejujurannya.”

Sekitar pukul tujuh kurang beberapa menit, mereka tiba di tujuan. Keenan langsung mengajak Novia ke area restoran yang telah disiapkan untuk makan malam romantis.

“Cantik sekali dekorasinya, Mas.”

“Kamu suka?”

“Suka banget. Nanti kita foto-foto ya?”

“Boleh, tapi kita makan dulu.”

“Iya, iya.”

Pramusaji pun mulai menghidangkan makanan serta minuman yang telah dipesan oleh Keenan.

“Semuanya sudah keluar ya, Pak Keenan, Bu Novia. Selamat menikmati hidangannya. Kalau ada tambahan, tinggal tekan bel yang tersedia. Saya permisi.”

“Terima kasih.”

“Kamu mau makan sama apa? Biar saya ambilkan.”

“Nggak perlu repot-repot, Mas. Aku bisa ambil sendiri.”

“Nggak repot sama sekali. Saya akan dengan senang hati membantu kamu, Nov.”

Keenan mulai melayani sang istri dengan sangat romantis, mengambilkan Novia makanan yang dia inginkan hingga membantu memotong daging steak yang hendak Novia makan.

“Selamat menikmati makanannya, Sayang. I love you, Novia Alexandra.”

Novia hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapan Keenan.

“Nggak usah dibalas ya, Nov. Saya akan sabar menunggu kamu mencintai saya.”

-oOo-

Selesai makan malam romantis, mereka langsung beranjak pulang sesuai keinginan Novia. Tadinya Keenan menawarkan Novia untuk menginap di hotel tersebut selama semalam. Namun, gadis itu menolak tawaran tersebut dan meminta pulang.

“Kamu yakin nggak mau putar balik, Nov?”

“Yakinlah, kenapa harus putar balik? Kita punya rumah, jadi nggak perlu menginap di hotel.”

“Saya paham itu. Siapa tahu kamu mau cari suasana baru? Moonlight Hotel itu salah satu hotel terbaik di kota ini loh.”

“Aku nggak tertarik, Mas.”

“Ya, udah. Mungkin nggak sekarang. Kapan-kapan aja ya?”

Keenan kembali fokus dengan jalanan di depannya. Sementara Novia memutuskan untuk memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama, gadis itu pun terlelap. Dua jam perjalanan mereka akhirnya tiba di rumah. Keenan pun mencoba membangunkan sang istri perlahan.

“Nov, bangun. Kita sudah sampai rumah,” ujar Keenan dengan suara yang lembut. Keenan tersenyum kecil melihat Novia yang masih terlelap. Beberapa kali ia mencoba membangunkan sang istri beberapa kali, tapi Novia tidak kunjung bangun.

“Kamu tidurnya lelap banget, Nov. Kamu pasti kecapean banget ya? Apa saya gendong aja kamu ke kamar? Ah, nggak bisa. Saya tidak bisa melakukan hal itu. Malam ini kita tidur di mobil saja. Saya ‘kan sudah janji nggak akan sentuh kamu kalau nggak dapat izin.”

Keenan melepaskan jas yang ia kenakan, kemudian diselimutinya Novia dengan jas yang baru saja dilepasnya itu.

“Selamat tidur ya, Nov. Ini jas saya takut kamu kedinginan. Di luar hujan.”

Setelah membuka kaca jendela sedikit, Keenan mulai memejam mata karena kantuknya sudah tak tertahan.

To be continued … ©2024 WillsonEP
Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya. Terima kasih udah mampir.☺️

Comments

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)