My Love Destiny (Chapter 8)

 🔞Chapter 8🔞

(CONTENT WARNING! ⚠️🔞) 

Peringatan konten ini mengandung adegan 18+. Mohon kebijaksanaannya tidak membaca bagian ini jika belum cukup umur. Terima kasih.


~~ Happy reading.







Keesokan harinya. Keenan dikagetkan dengan suara teriakan Novia.

“Keenan, kenapa kita tidur di mobil?” tanya Novia sambil memukul lengan Keenan. Keenan hanya bisa tersenyum sambil membersihkan matanya dari kotoran.

“Saya sudah coba bangunin kamu, Nov. Hanya nggak berhasil. Tidur kamu nyenyak banget semalam.”

“Masa sih? Kamu yakin udah coba bangunin aku?”

“Udah, Sayang, tapi kamunya nggak bangun-bangun. Jadi terpaksa deh kita tidur di mobil.”

“Kenapa kamu nggak gendong aku aja ke kamar? Kamu bisa ‘kan? Atau kamu nggak kuat?”

“Hmm … bukannya saya nggak mau. Saya sebenarnya bisa aja gendong kamu ke kamar, tapi bukannya saya nggak bisa sentuh kamu? Saya nggak bisa gendong tanpa menyentuh kamu. Saya ‘kan sudah janji nggak akan sentuh kamu tanpa izin. Apa saya salah?”

“Nggak salah sih. Sudah ah, kita masuk sekarang. Aku harus siap-siap sekarang.”

“Siap-siap ke mana? Kamu mau pergi?”

“Iya, aku ada janjian sama klien.”

“Oh, gitu. Padahal hari ini Sabtu. Saya antar ya?”

“Boleh. Kita harus tiba di Arden Café sebelum jam 09.00.”

“Keburu, Nov. Ini masih jam 05.30.”

“Aku duluan ya.”

“Iya.”

Novia beranjak keluar mobil dan segera memasuki rumah. Keenan tersenyum melihat sang istri terlihat terburu-buru memasuki rumah.

“Nov, Nov, jam 09.00 masih lama banget. Kenapa kamu harus buru-buru sih?”

-oOo-

Selesai bersiap, Keenan pun pergi mengantar Novia menemui kliennya di Arden Café. Lokasinya yang lumayan jauh membuat mereka harus menempuh perjalanan selama satu jam setengah.

“Akhirnya sampai juga. Aku masuk dulu ya, Mas.”

“Iya, perlu saya temani?”

“Nggak perlu. Kamu bisa langsung pulang.”

“Pulang? Saya akan tunggu kamu di sini. Meeting-nya hanya satu jam ‘kan?”

“Iya, hanya sejam. Kalau kamu mau nunggu di sini ya terserah. Aku masuk ya?”

“Iya, Sayang. Kalau udah beres langsung ke sini.”

Novia beranjak memasuki kafe tersebut. Sesampainya di dalam, kedatangan Novia langsung disambut oleh kliennya.

“Selamat pagi, Bu Novia.”

“Pagi, Pak Hendra. Maaf, saya baru sampai. Bapak sudah lama di sini?”

“Nggak apa-apa kok, Bu. Saya juga baru banget sampai. Silakan duduk, Bu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Bu Novia mau pesan apa? Waiter!”

“Hmm … saya sudah sarapan di rumah, Pak. Terima kasih.”

“Kalau begitu pesan minuman saja ya, Bu.”

“Selamat datang di Arden Café. Mau pesan apa, Pak, Bu?”

“Saya pesan ice lemon tea. Kalau Bu Novia mau pesan apa?”

“Saya pesan avocado juice no ice ya, Mbak.”

“Baik, ada tambahan lain?”

“Itu aja, Mbak. Cukup.”

“Baik, mohon ditunggu ya, Pak, Bu.”

Tak butuh waktu lama, pesanan mereka diantar. Mereka pun mulai menyeruput minuman masing-masing.

“Mari kita mulai meeting-nya.”

Meeting antara Hendra dan Novia dimulai. Awalnya semua berlangsung dengan lancar. Novia menjelaskan konsep iklan produk perusahaan Hendra pada tayangan serial Little Parents yang akan segera ditayangkan oleh CMTV. Novia menjelaskan bahwa iklan yang tayang harus senatural mungkin tanpa ada kata-kata yang hiperbola.

“Baik, saya setuju dengan konsep yang Bu Novia ajukan. Berarti kapan proses syuting tayangan iklan ini?”

“Untuk jadwalnya akan saya kabari lagi, Pak. Ada lagi yang ingin Pak Hendra tanyakan?”

“Sejauh ini cukup, Bu Novia. Saya harus pamit. Terima kasih atas waktunya.”

“Sama-sama, Pak. Senang bisa bekerja sama dengan Bapak.”

Tiba-tiba saja Novia merasakan kepalanya pusing. Pandangannya mulai kabur dan kehilangan keseimbangan.

“Bu Novia baik-baik saja? Bu Novia?”

Gelap. Kini Novia sudah tidak sadarkan diri. Tak lama, seseorang datang menghampiri.

“Selamat pagi. Ini ada apa ya?”

“Pagi, Pak. Ini tiba-tiba saja klien saya tidak sadarkan diri. Padahal saya harus segera pergi.”

“Baik, biar saya bantu cek ya, Pak.”

“Silakan, Pak.”

“Wah, ini teman saya, Pak. Novia, kamu kenapa? Sepertinya darah rendahnya kumat. Bapak bisa langsung pergi saja. Bu Novia biar saya saja yang urus.”

“Ini beneran, Pak? Terima kasih ya, Pak.”

“Iya, sama-sama. Saya akan antar dia ke keluarganya.”

“Baiklah, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Saya permisi dulu.”

“Oke, Pak.”

Setelah Hendra pergi, lelaki itu langsung menggendong Novia ke mobil miliknya dan mulai meninggalkan lokasi kafe.

“Kamu akan menjadi milikku, Nov. Maaf, kalau aku melakukan hal ini padamu. Aku tidak sudi kamu bahagia sama lelaki lain. Kamu itu milikku. Apapun caranya pasti aku lakukan untuk mendapatkanmu. Sabar ya, Sayang. Sekarang kita ke apartemenku.”

Lelaki itu adalah Aiden, mantan pacar Novia yang masih mengejar cinta Novia. Berbagai cara dia lakukan untuk meluluhkan hati Novia kembali. Sayang, Novia sudah terlanjur kecewa dan sangat membenci mantannya itu. Aiden telah tiba di gedung apartemen miliknya. Ia langsung membawa Novia masuk ke unitnya.

“Novia Alexandra, are you ready?” ujar lelaki itu sambil membelai rambut Novia.

Aiden mulai menanggalkan pakaiannya perlahan, bersiap untuk memiliki gadis yang masih tidak sadarkan diri.

“Nov, Nov, cantiknya kamu nggak berubah ya? Aku selalu kangen menatap wajahmu. Kenapa sih kamu selalu menolak aku? Aku ini benar-benar mencintaimu. Sekarang kita mulai ya?”

Aiden mulai membuka beberapa kancing atas kemeja yang dikenakan Novia.

“Permisi, Pak. Ini dari valet parking, mau antar kunci mobil Bapak.”

“Iya, sebentar.”

“Sayang, sebentar dulu ya. Ada gangguan sebentar. Aku janji nggak akan lama.”

Aiden beranjak pergi meninggalkan Novia seorang diri di kamar.

“Ini kunci mobilnya, Pak.”

“Terima kasih ya. Sekarang Bapak bisa pergi.”

“Sama-sama, Pak, tapi saya nggak akan pergi dari sini sebelum Anda menyerahkan istri saya!”

“Oh, ternyata ada Keenan Aditya di sini. Saya takut. Saya nggak akan membiarkan Anda membawa Novia pergi dari sini. Novia itu milik saya! Anda sebaiknya pergi dari sini!”

“Saya ini suaminya! Anda hanya masa lalunya! Jadi Anda harusnya sadar diri, Pak Aiden.”

“Sudahlah saya nggak punya waktu untuk meladeni Anda. Saya mau bersenang-senang dengan Novia.”

“Dasar kurang ajar!” emosi Keenan langsung mendaratkan pukulan tepat di pipi Aiden. “Jangan berani-beraninya sentuh istri saya!”

“Sabar, Pak Keenan. Saya hanya pinjam Novia sebentar. Setelah saya bermain dengannya, pasti akan saya kembalikan. Itu pun kalau Pak Keenan nggak keberatan dengan bekasnya saya.”

“Dasar lelaki brengsek!”

Keenan kembali memukul pria itu dan mendorongnya ke dalam kamar. Perkelahian di antara keduanya pun dimulai. Sementara itu, Novia mulai tersadar.

“Aku di mana? Apa yang sebenarnya terjadi?” Melihat kemejanya berantakan dan beberapa kancing terbuka, membuat Novia langsung merapikannya kembali.

“Siapa yang melakukan hal ini? Apa mungkin Pak Hendra? Ini nggak mungkin. Aku harus segera keluar dari sini.”

Novia meraih tas miliknya dan mulai berjalan ke arah pintu dengan kepala yang masih terasa berat. Novia berusaha membuka pintu kamar tersebut, tetapi tidak bisa karena pintunya terkunci.

“Tolong! Tolong, keluarkan saya dari sini!”

To be continued … ©2024 WillsonEP

Chapter 8

Keesokan harinya. Keenan dikagetkan dengan suara teriakan Novia.

“Keenan, kenapa kita tidur di mobil?” tanya Novia sambil memukul lengan Keenan. Keenan hanya bisa tersenyum sambil membersihkan matanya dari kotoran.

“Saya sudah coba bangunin kamu, Nov. Hanya nggak berhasil. Tidur kamu nyenyak banget semalam.”

“Masa sih? Kamu yakin udah coba bangunin aku?”

“Udah, Sayang, tapi kamunya nggak bangun-bangun. Jadi terpaksa deh kita tidur di mobil.”

“Kenapa kamu nggak gendong aku aja ke kamar? Kamu bisa ‘kan? Atau kamu nggak kuat?”

“Hmm … bukannya saya nggak mau. Saya sebenarnya bisa aja gendong kamu ke kamar, tapi bukannya saya nggak bisa sentuh kamu? Saya nggak bisa gendong tanpa menyentuh kamu. Saya ‘kan sudah janji nggak akan sentuh kamu tanpa izin. Apa saya salah?”

“Nggak salah sih. Sudah ah, kita masuk sekarang. Aku harus siap-siap sekarang.”

“Siap-siap ke mana? Kamu mau pergi?”

“Iya, aku ada janjian sama klien.”

“Oh, gitu. Padahal hari ini Sabtu. Saya antar ya?”

“Boleh. Kita harus tiba di Arden Café sebelum jam 09.00.”

“Keburu, Nov. Ini masih jam 05.30.”

“Aku duluan ya.”

“Iya.”

Novia beranjak keluar mobil dan segera memasuki rumah. Keenan tersenyum melihat sang istri terlihat terburu-buru memasuki rumah.

“Nov, Nov, jam 09.00 masih lama banget. Kenapa kamu harus buru-buru sih?”

-oOo-

Selesai bersiap, Keenan pun pergi mengantar Novia menemui kliennya di Arden Café. Lokasinya yang lumayan jauh membuat mereka harus menempuh perjalanan selama satu jam setengah.

“Akhirnya sampai juga. Aku masuk dulu ya, Mas.”

“Iya, perlu saya temani?”

“Nggak perlu. Kamu bisa langsung pulang.”

“Pulang? Saya akan tunggu kamu di sini. Meeting-nya hanya satu jam ‘kan?”

“Iya, hanya sejam. Kalau kamu mau nunggu di sini ya terserah. Aku masuk ya?”

“Iya, Sayang. Kalau udah beres langsung ke sini.”

Novia beranjak memasuki kafe tersebut. Sesampainya di dalam, kedatangan Novia langsung disambut oleh kliennya.

“Selamat pagi, Bu Novia.”

“Pagi, Pak Hendra. Maaf, saya baru sampai. Bapak sudah lama di sini?”

“Nggak apa-apa kok, Bu. Saya juga baru banget sampai. Silakan duduk, Bu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Bu Novia mau pesan apa? Waiter!”

“Hmm … saya sudah sarapan di rumah, Pak. Terima kasih.”

“Kalau begitu pesan minuman saja ya, Bu.”

“Selamat datang di Arden Café. Mau pesan apa, Pak, Bu?”

“Saya pesan ice lemon tea. Kalau Bu Novia mau pesan apa?”

“Saya pesan avocado juice no ice ya, Mbak.”

“Baik, ada tambahan lain?”

“Itu aja, Mbak. Cukup.”

“Baik, mohon ditunggu ya, Pak, Bu.”

Tak butuh waktu lama, pesanan mereka diantar. Mereka pun mulai menyeruput minuman masing-masing.

“Mari kita mulai meeting-nya.”

Meeting antara Hendra dan Novia dimulai. Awalnya semua berlangsung dengan lancar. Novia menjelaskan konsep iklan produk perusahaan Hendra pada tayangan serial Little Parents yang akan segera ditayangkan oleh CMTV. Novia menjelaskan bahwa iklan yang tayang harus senatural mungkin tanpa ada kata-kata yang hiperbola.

“Baik, saya setuju dengan konsep yang Bu Novia ajukan. Berarti kapan proses syuting tayangan iklan ini?”

“Untuk jadwalnya akan saya kabari lagi, Pak. Ada lagi yang ingin Pak Hendra tanyakan?”

“Sejauh ini cukup, Bu Novia. Saya harus pamit. Terima kasih atas waktunya.”

“Sama-sama, Pak. Senang bisa bekerja sama dengan Bapak.”

Tiba-tiba saja Novia merasakan kepalanya pusing. Pandangannya mulai kabur dan kehilangan keseimbangan.

“Bu Novia baik-baik saja? Bu Novia?”

Gelap. Kini Novia sudah tidak sadarkan diri. Tak lama, seseorang datang menghampiri.

“Selamat pagi. Ini ada apa ya?”

“Pagi, Pak. Ini tiba-tiba saja klien saya tidak sadarkan diri. Padahal saya harus segera pergi.”

“Baik, biar saya bantu cek ya, Pak.”

“Silakan, Pak.”

“Wah, ini teman saya, Pak. Novia, kamu kenapa? Sepertinya darah rendahnya kumat. Bapak bisa langsung pergi saja. Bu Novia biar saya saja yang urus.”

“Ini beneran, Pak? Terima kasih ya, Pak.”

“Iya, sama-sama. Saya akan antar dia ke keluarganya.”

“Baiklah, sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Saya permisi dulu.”

“Oke, Pak.”

Setelah Hendra pergi, lelaki itu langsung menggendong Novia ke mobil miliknya dan mulai meninggalkan lokasi kafe.

“Kamu akan menjadi milikku, Nov. Maaf, kalau aku melakukan hal ini padamu. Aku tidak sudi kamu bahagia sama lelaki lain. Kamu itu milikku. Apapun caranya pasti aku lakukan untuk mendapatkanmu. Sabar ya, Sayang. Sekarang kita ke apartemenku.”

Lelaki itu adalah Aiden, mantan pacar Novia yang masih mengejar cinta Novia. Berbagai cara dia lakukan untuk meluluhkan hati Novia kembali. Sayang, Novia sudah terlanjur kecewa dan sangat membenci mantannya itu. Aiden telah tiba di gedung apartemen miliknya. Ia langsung membawa Novia masuk ke unitnya.

“Novia Alexandra, are you ready?” ujar lelaki itu sambil membelai rambut Novia.

Aiden mulai menanggalkan pakaiannya perlahan, bersiap untuk memiliki gadis yang masih tidak sadarkan diri.

“Nov, Nov, cantiknya kamu nggak berubah ya? Aku selalu kangen menatap wajahmu. Kenapa sih kamu selalu menolak aku? Aku ini benar-benar mencintaimu. Sekarang kita mulai ya?”

Aiden mulai membuka beberapa kancing atas kemeja yang dikenakan Novia.

“Permisi, Pak. Ini dari valet parking, mau antar kunci mobil Bapak.”

“Iya, sebentar.”

“Sayang, sebentar dulu ya. Ada gangguan sebentar. Aku janji nggak akan lama.”

Aiden beranjak pergi meninggalkan Novia seorang diri di kamar.

“Ini kunci mobilnya, Pak.”

“Terima kasih ya. Sekarang Bapak bisa pergi.”

“Sama-sama, Pak, tapi saya nggak akan pergi dari sini sebelum Anda menyerahkan istri saya!”

“Oh, ternyata ada Keenan Aditya di sini. Saya takut. Saya nggak akan membiarkan Anda membawa Novia pergi dari sini. Novia itu milik saya! Anda sebaiknya pergi dari sini!”

“Saya ini suaminya! Anda hanya masa lalunya! Jadi Anda harusnya sadar diri, Pak Aiden.”

“Sudahlah saya nggak punya waktu untuk meladeni Anda. Saya mau bersenang-senang dengan Novia.”

“Dasar kurang ajar!” emosi Keenan langsung mendaratkan pukulan tepat di pipi Aiden. “Jangan berani-beraninya sentuh istri saya!”

“Sabar, Pak Keenan. Saya hanya pinjam Novia sebentar. Setelah saya bermain dengannya, pasti akan saya kembalikan. Itu pun kalau Pak Keenan nggak keberatan dengan bekasnya saya.”

“Dasar lelaki brengsek!”

Keenan kembali memukul pria itu dan mendorongnya ke dalam kamar. Perkelahian di antara keduanya pun dimulai. Sementara itu, Novia mulai tersadar.

“Aku di mana? Apa yang sebenarnya terjadi?” Melihat kemejanya berantakan dan beberapa kancing terbuka, membuat Novia langsung merapikannya kembali.

“Siapa yang melakukan hal ini? Apa mungkin Pak Hendra? Ini nggak mungkin. Aku harus segera keluar dari sini.”

Novia meraih tas miliknya dan mulai berjalan ke arah pintu dengan kepala yang masih terasa berat. Novia berusaha membuka pintu kamar tersebut, tetapi tidak bisa karena pintunya terkunci.

“Tolong! Tolong, keluarkan saya dari sini!”

To be continued … ©2024 WillsonEP
Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya. Terima kasih udah mampir.☺️

Comments

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)