My Love Destiny (Chapter 9)

Chapter 9

Novia masih berada di sebuah kamar apartemen yang terkunci. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa sekarang dia berada di apartemen dengan kondisi pakaian yang terbuka sebagian? Novia pun mencurigai Hendra, pemilik perusahaan kondom yang baru saja ia temui di Arden Café, sebagai pelaku.

“Tolong keluarkan saya dari sini! Saya mau pulang!”

Beberapa kali Novia mencoba berteriak, tetapi tidak ada jawaban siapa pun dari luar kamar.

“Apa mungkin lelaki itu telah pergi dari sini dan aku dikurung agar tidak dapat melaporkan ke polisi? Sialan! Brengsek! Aku harus bagaimana ini? Apa aku telepon Mas Keenan aja ya? Dia pasti mau bantu aku.”

Novia membuka tasnya dan merogoh tas tersebut untuk mendapatkan ponselnya. Setelah ketemu, Novia pun langsung melakukan panggilan telepon kepada Keenan.

“Ayo, Mas Keenan angkat! Aku butuh bantuan kamu, Mas.”

Beberapa kali Novia menghubungi nomor sang suami, tetapi tak kunjung diangkat.

“Mas, kamu di mana sih? Kok nggak angkat telepon aku? Aku takut banget di sini!”

Beberapa saar kemudian, terdengar seseorang membuka kunci pintu kamar. Tentu saja Novia semakin merasa takut. Apa itu Pak Hendra kembali dan ingin melanjutkan aksinya? Ah, aku harus bagaimana? Tuhan, tolong selamatkan aku dari sini.

“Nov, apa kamu di dalam? Ini saya Keenan.”

Melihat sosok Keenan diambang pintu, Novia langsung berlari dan memeluk lelaki itu.

“Mas Keenan! Akhirnya kamu datang. Aku takut banget!”

“Kamu baik-baik saja, Nov? Apa yang Aiden lakukan sama kamu?”

“Aiden? Kok Aiden? Bukannya Pak Hendra pelakunya?”

“Pelakunya Aiden, Sayang. Kamu bisa lihat sendiri, dia sudah berhasil saya hajar karena berani menyakiti kamu. Sebentar lagi polisi akan datanf untuk menangkap dia. Oh, iya kamu tadi belum jawab pertanyaan saya. Aiden ngapain kamu?”

Belum sempat Novia menjawab, polisi datang untuk menangkap lelaki bernama Aiden yang masih terkapar tidak sadarkan diri. Setelah memberikan keterangan di kantor polisi, Keenan dan Novia memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, Keenan mengajak sang istri untuk beristirahat di kamar.

“Udah mandinya?”

“Udah.”

“Sekarang kita istirahat ya? Kamu pasti lelah banget hari ini.”

“Aku nggak bisa istirahat, Mas.”

“Kenapa? Masih kepikiran kejadian tadi? Oh, iya  kamu nggak sempat diapa-apain ‘kan sama lelaki itu?”

“Kayaknya nggak. Dia baru membuka sebagian kancing kemejaku.”

“Dia sempat buka baju kamu? Kurang ajar! Laincang sekali dia! Saya nggak terima istri saya diperlakukan seperti itu!”

“Sabar, Mas. Aku nggak apa-apa kok.”

“Kamu yakin? Mau kita periksa ke dokter?”

“Nggak perlu. Aku baik-baik saja karena Mas Keenan datang tepat waktu. Makasih ya, Mas.”

“Sama-sama.”

“Itu lebamnya nggak mau diobatin di rumah sakit? Kayaknya lumayan parah.”

“Nggak perlu, Sayang. Di sini ada obat yang paling mujarab buat lebam ini.”

“Kamu punya obatnya? Mau aku ambilkan?”

“Nggak perlu diambilkan. Obatnya ada di hadapan saya sekarang.”

“Aku? Dasar gombal!”

“Saya serius. Boleh saya minta satu permintaan dari kamu, Nov?”

“Kamu mau minta apa? Jangan minta yang aneh-aneh ya, Mas.”

“Saya hanya minta jangan pernah tinggalkan saya.”

“Aku akan tetap di sini dan belajar mencintai Mas.”

“Benarkah?”

“Iya, aku janji nggak akan tinggalin Mas Keenan.”

“Terima kasih ya, Nov.”

“Sekarang kita makan ya? Aku laper. Kita ‘kan belum makan siang. Mas Keenan mau makan apa?”

“Hmm … apa ya? Ada ide?”

“Aku nanya malah nanya balik. Bikin yang simple aja. Nasi goreng telor gimana?”

“Boleh. Apapun masakan kamu pasti saya suka.”

“Yakin? Ya, udah sekarang aku bikin nasi goreng pete deh.”

“Jangan, Nov. Saya nggak suka pete.”

“Katanya apapun Mas Keenan suka.”

“Kecuali pete. Selebihnya saya suka.”

“Ada alergi makanan tertentu?”

“Nggak ada.”

“Oke. Berarti semua makan bisa, kecuali pete.”

“Iya. Bikinnya pakai cinta ya, Nov.”

“Iya. Ayo, kita ke dapur!”

Novia langsung menggandeng lengan suaminya, kemudian mengajak lelaki itu ke dapur. Keenan dengan senang hati mengikuti ajakan Novia.

“Kamu nggak salah gandeng lengan saya seperti ini?”

“Nggak. Mas Keenan keberatan ya?”

“Sama sekali nggak. Saya senang kamu manja seperti ini. Apa ini artinya saya boleh sentuh kamu?”

“Boleh nggak ya? Boleh, Mas. Mungkin dengan sentuhan bisa menumbuhkan rasa cintaku ke Mas.”

“Saya akan berusaha supaya kamu bisa mencintai saya. Saya boleh peluk kamu sekarang?”

“Nanti ah, sekarang aku mau masak dulu.”

“Saya maunya sekarang, Nov.”

“Sabar. Masaknya nggak lama kok. Mas Keenan tunggu di meja makan aja ya?”

“Ya, udah. Saya tunggu kamu di meja makan.”

Beberapa saat kemudian. Novia datang membawa dua piring nasi goreng telur. Ditaruhnya piring tersebut di atas meja makan.

“Wah, cepat juga jadinya. Pasti rasanya enak nih.”

“Iya dong, Mas. Siapa dulu yang masaknya.”

“Istrinya Keenan Aditya. Sekarang boleh saya peluk kamu, Nov?”

“Nggak sabaran banget sih, Mas. Lebih baik kita makan dulu, nanti keburu dingin.”

“Iya, deh. Habis makan beneran boleh ya?”

“Habis makan kita mandi dulu, Mas. Biar wangi.”

“Oke, habis mandi. Nggak ada penundaan lagi.”

“Oke. Deal.”

Selesai makan siang bersama, Novia dan Keenan langsung masuk ke kamar. Novia pun pamit untuk mandi duluan.

“Mandi bareng aja gimana, Nov? Biar cepet.”

“Nggak! Mandi sendiri-sendiri aja.”

“Ya, udah. Mandinya jangan lama-lama ya.”

“Sebentar kok. Paling lama 15 menit.”

“Oke, saya tunggu.”

Novia beranjak masuk ke kamar mandi.

“Nov, kamu nggak bawa handuk dan baju ganti?”

“Nggak perlu, Mas. Aku mau cobain handuk kimono yang baru dibeli minggu lalu.”

“Ya, udah.”

Selesai keduanya mandi, Keenan pun langsung memeluk sang istri, kemudian tak lama mencium pipinya.

I love you, Sayang.”

“Ih, kenapa nggak sesuai perjanjian? Perjanjiannya ‘kan hanya peluk. Kok kamu cium aku?”

“Nggak apa-apalah, Nov. Anggap saja bonus.”

“Bonus apaan? Dasar modus!”

“Nggak apa-apa modusnya ‘kan sama istri sendiri. Sekarang kita mau ngapain?”

“Tidur. Aku capek banget.”

“Nggak mau mencoba itu?”

“Aku belum siap.”

“Ya, udah. Saya akan sabar menunggu kamu siap.”

-oOo-

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 17.30. Novia baru saja terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Keenan sudah tidak ada di sampingnya. Novia pun memutuskan untuk mengecek kamar mandi.

“Mas Keenan, kamu di kamar mandi?”

“Iya, Nov. Saya di kamar mandi.”

“Ngapain?”

“Mandi lagi. Cuaca hari ini gerah, Nov.”

“Oh, gitu. Sudah jam segini, kamu mau makan malam sama apa?”

“Terserah kamu aja, Nov. Saya ikut kamu.”

Novia beranjak pergi menuju dapur sambil memikirkan menu apa yang akan dibuatnya untuk makan malam hari ini. Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk membuat sup ayam kampung favorit sang suami. Sekitar pukul 18.15, Keenan datang menghampiri ke meja makan.

“Sudah selesai masaknya, Nov?”

“Ini baru beres. Tumben kamu mandinya lama. Ngapain aja?”

“Nggak lama kok, paling tadi hanya sepuluh menit. Tadi saya rebahan dulu di kamar, badan agak kurang enak badan.”

“Kamu sakit, Mas? Mau ke dokter?”

“Nggak perlu, Nov. Istirahat bentar juga pasti mendingan.”

“Mas Keenan yakin?”

“Yakin, sekarang kita mulai makan malamnya.”

“Ya, udah. Aku ambilin nasinya.”

“Jangan banyak-banyak, Nov.”

“Segini cukup?”

“Cukup. Thanks.”

Mereka pun mulai menyantap makan malam bersama. Setelah makan malam dan minum paracetamol, Keenan duluan ke kamar. Sementara itu Novia sibuk membereskan peralatan masak serta piring-piring kotor terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, Novia segera menyusul sang suami ke kamar.

“Mas Keenan, gimana kondisi kamu sekarang?” ujar Novia perlahan memasuki kamar.

“Ternyata kamu udah tidur. Pasti karena habis minum obat. Cepat sembuh ya, Mas. Aku permisi ke ruang tengah mau nonton TV.”

Novia beranjak pergi menuju ruang tengah untuk menonton episode perdana serial terbaru CMTV, Julian & Jovita. Satu jam berlalu, Novia selesai menonton serial tersebut.

“Kamu lagi nonton apa?” tanya Keenan yang tiba-tiba muncul.

“Eh, Mas Keenan. Ini aku baru beres nonton tayangan perdana Julian & Jovita. Oh, iya gimana kondisi Mas sekarang?”

“Oh, gitu. Udah mendingan kok.”

“Yakin? Coba aku cek.”

Novia langsung beranjak menghampiri Keenan, kemudian menempelkan salah satu lengannya pada dahi Keenan.

“Udah nggak demam ‘kan, Sayang?”

“Iya, Mas. Puji Tuhan, kamu udah nggak demam. Masih pusing?”

“Dikit doang. Bentar juga ilang.”

“Ya, udah. Sekarang aku mau mandi.”

“Boleh saya ikut?”

“Tentu, nggak! Mas Keenan jangan minta yang aneh-aneh deh.”

“Ini bukan permintaan aneh, Nov. Wajar dong suami-istri mandi bersama.”

“Memang ada, tapi nggak semuanya seperti itu. Udah ah, aku mau ke kamar.”

“Ya udah, saya ikut ke kamar aja deh.”

Mereka beranjak ke kamar. Novia langsung masuk ke kamar mandi. Sementara Keenan berbaring di tempat tidur, menunggu hingga sang istri selesai mandi. 10 menit kemudian, Novia keluar menggunakan handuk kimono yang baru.

“Sudah selesai mandinya, Nov?”

“Sudah, Mas. Mas mau mandi lagi?”

“Nggak. Saya mau melakukan itu. Apa kamu nggak penasaran, Nov? Sudah sebulan kita menikah masa belum pernah melakukan hal itu.”

“Hmm … bukannya Mas masih menunggu aku siap? Aku belum siap, Mas. Takut sakit.”

“Ya, tadinya begitu, tapi setelah dipikir-dipikir mending langsung praktek. Katanya kamu mau belajar mencintai saya. Sekarang waktunya. Nggak perlu langsung. Kita mulai dari berpelukan dan ciuman.”

“Hmm … harus banget sekarang? Aku nggak punya pengalaman sama sekali di atas ranjang.”

“Ya, sekarang, tapi itu juga kalau kamu mau, Nov. Aku nggak akan paksa kamu.”

“Aku mau mencobanya.”

“Kamu yakin?”

“Yakin, tapi pelan-pelan ya, Mas.”

“Iya. Saya janji akan pelan-pelan. Kita mulai sekarang?”

“Iya, sekarang aku harus apa?”

“Hmm … buka handuk mau?”

“Harus banget buka? Telanjang dong. Aku nggak pake apa-apa lagi soalnya.”

“Ya, kalau kamu nggak nyaman ya nggak perlu.”

Okay. Sekarang apa?”

“Boleh saya peluk dan cium kamu, Nov?”

“Boleh, tapi ciumnya di mana dulu?”

“Pipi kamu. Boleh?”

“Boleh.”

The end.

©2024 WillsonEP

Comments

  1. Seru banget... Akhirnya Novia mau mencobanya. ♥️♥️♥️♥️

    ReplyDelete
  2. Keenov Junior OTW kah?

    ReplyDelete
  3. Cie, cie, akhirnya ♥️

    ReplyDelete
  4. Thanks thor buat ceritanya. Ditunggu cerita lain.

    ReplyDelete
  5. Kok tamat sih, Thor? Bisa kali season 2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisahnya sudah berakhir ya. Ditunggu cerita selanjutnya.

      Delete
  6. Ditunggu season 2-nya

    ReplyDelete
  7. Next judul apa nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm … sering-sering cek postingan terbaru ya.

      Delete

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)