Terror Games (Chapter 7) ⚠️π
Chapter 7
(CONTENT WARNING! ⚠️π) Peringatan konten ini mengandung adegan 18+. Mohon kebijaksanaannya tidak membaca bagian ini jika belum cukup umur. Terima kasih.
.
.
.
Jessica
baru saja menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan didampingi oleh Margareth.
“Gimana
kondisi kamu sekarang, Sayang? Masih pusing?”
“Jessica
udah baik-baik aja, Ma. Udah nggak pusing kok. Hanya …”
“Hanya?
Ada sakit di bagian lain? Di bagian mana? Mama panggil dokter ya?”
“Nggak
usah, Ma. Jessica kangen sama Julian. Julian kok nggak dateng ke sini?”
“Ah,
kamu bisa aja. Kirain kamu kenapa-kenapa. Mungkin Julian masih istirahat atau
mungkin lagi ibadah. Hari ini ‘kan Minggu.”
“Hmm …
bisa jadi. Aku khawatir sama dia. Takut terjadi apa-apa.”
“Mama
paham perasaan kamu. Kita doakan saja supaya Julian selalu dilindungi dari
orang-orang yang ingin berbuat jahat.”
“Amin.”
Selang
beberapa saat. Jazz memasuki ruang rawat.
“Hai, Dek.
Gimana kondisi kamu sekarang?”
“Hai,
Kak. Kondisi Jessica udah membaik.”
“Puji
Tuhan. Kakak senang dengarnya.”
“Akhirnya
kamu pulang juga. Gimana urusanmu di Surabaya? Apa sudah selesai?”
“Sudah,
Ma. Semua urusanku sudah selesai. Gimana ceritanya Jessica bisa kayak gini? Apa
ada hubungannya dengan orang yang meneror Julian?”
“Bisa
jadi, bisa juga nggak. Polisi masih menyelidiki pemilik motor yang menabrak
adik kamu.”
“Oh,
gitu. Semoga saja pelakunya bisa segera ditangkap. Jazz nggak terima kalau
pelakunya lolos dari hukum.”
“Amin.
Mama juga nggak terima. Gara-gara dia anak Mama jadi seperti ini.”
“Kak
Jazz dari bandara langsung ke sini?”
“Iya,
dong. Kakak khawatir sama kondisi kamu, Jess. Kondisi kamu beneran udah nggak
apa-apa nih?”
“Beneran,
Kak. Kakak sekarang pulang ya? Istirahat. Pasti Kakak lelah banget dari Surabaya
langsung ke sini.”
“Wah,
diusir nih ceritanya?”
“Aku
bukannya ngusir, di rumah ada yang kangen sama Kak Jazz.”
“Hmm …
iya deh. Kak Jazz pulang ya? Kamu cepet sembuh.”
“Pasti,
Kak. Hati-hati di jalan.”
“Siap.”
“Mama
antar Jazz dulu ya, Sayang. Sekalian mau sarapan di kantin. Kamu mau nitip
apa?”
“Titip
kue sus yang kemaren.”
“Oke.
Mama beliin ya. Kamu jangan ke mana-mana.”
“Iya,
Jessica nggak akan ke mana-mana.”
Sekitar
15 menit kemudian. Julian datang memasuki ruang rawat Jessica.
“Hai,”
ujar Julian sambil menghampiri Jessica lebih dekat.
“Hai
juga. Kok baru dateng?”
“Maaf,
aku baru bisa dateng sekarang. Aku baru banget pulang gereja. Mama kamu mana?”
“Lagi
sarapan di kantin.”
“Oh,
gitu. Kamu udah sarapan?”
“Udah.
Tadi makan makanan dari rumah sakit.”
“Pinter.
Mau ngemil? Aku bawain sesuatu buat kamu.”
“Hmm …
kamu bawa apa?”
“Coba
tebak dong.”
“Hmm …
ada clue-nya?”
“Favorit
kamu banget.”
“Chewy
Soes Belah Doeren?”
“Betul
banget. Ini dia.”
“Makasih,
Jul.”
“Sama-sama.”
“Kamu
tau aja kesukaaan aku.”
“Ya,
siapa dulu pacarnya kamu.”
“Iya,
deh. Aku makan sekarang ya?”
“Boleh.”
“Kamu
mau?”
“Nggak.
Buat kamu aja.”
“Makasih.”
-oOo-
Di
sisi lain Jazz sedang dalam perjalanan menuju rumahnya menggunakan taksi. Tiba-tiba
saja Jazz mendapatkan telepon dari tetangganya. Tetangganya memberitahukan
bahwa rumah Jazz mengalami kebakaran. Saat ini sedang dilakukan pemadaman oleh
warga setempat. Mendengar Alexa dan Nasya masih berada di dalam rumah, membuat
Jazz khawatir. Jazz pun meminta agar sopir taksi menambah kecepatannya.
Sesampainya
di rumah, Jazz langsung berlari menerobos kerumunan warga yang sedang berusaha
memadamkan api. Asap tebal mengepul tinggi, membuat jarak pandang menjadi
terbatas. “Alexa! Nasya!” teriak Jazz sekuat tenaga, suaranya nyaris tak
terdengar di tengah hiruk pikuk. Ia berusaha menerobos masuk ke dalam rumah,
tetapi api yang besar dan asap yang tebal menghalangi hampir seluruh sudut
rumah. Selang beberapa saat, pemadam kebakaran baru saja tiba di lokasi.
Mereka
langsung menyiapkan selang air dan memulai memadamkan api. Jazz hanya bisa diam
menatap rumahnya penuh dengan api. Ia khawatir apa bisa istri dan anaknya
selamat dari api yang besar ini.
“Alexa,
Nasya. Semoga kalian baik-baik saja ya. Maaf, aku nggak bisa menolong kalian ke
dalam.”
Jazz
menghampiri salah satu petugas, mendesaknya agar segera menyelamatkan Alexa dan
Nasya di dalam rumah.
“Maaf,
Pak. Seluruh akses masuk tertutup api dan asap, kami harus memadamkannya
terlebih dahulu. Mohon bersabar ya. Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”
“Tolong
secepatnya ya, Pak. Saya takut istri dan anak saya kenapa-kenapa.”
-oOo-
Di
sisi lain, Jessica dan Margareth baru saja tiba di rumah diantar oleh Julian. Jessica
sudah diperbolehkan pulang karena dari hasil pemeriksaan menujukkan tidak ada
hal serius, semua baik-baik saja. Saat sedang asyik mengobrol di ruang tengah,
tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“Siapa
ya? Perasaan Mama nggak ada janjian sama orang.”
“Mungkin
paket aku, Ma.”
“Hmm …
biar aku aja yang cek.”
Julian
beranjak untuk mengecek siapa yang datang.
“Selamat
siang, Mas. Ini ada paket atas nama Jessica Margareth. Apa betul ini rumahnya?”
“Betul,
Pak.”
“Baik,
ini paketnya saya serahkan ke Mas-nya. Izin foto ya sebagai bukti.”
“Oke.”
“Terima
kasih, Mas. Maaf, mengganggu waktunya.”
Setelah
kurir pergi, Julian langsung masuk rumah.
“Hmm …
Jessica pesan paket apa sih? Kok nggak ada nama pengirimnya ya?”
Julian
kembali ke ruang tengah.
“Paket
aku ya, Jul?”
“Iya,
kamu pesen apaan?”
“Skincare.
Biar tetap cantik.”
“Oh,
tapi kok nggak ada nama pengirimnya ya?”
“Ah,
masa? Aku beli online kok seperti biasanya. Coba liat.”
Julian
duduk di sebelah Jessica, kemudian menyerahkan paket tersebut padanya.
“Nih,
bisa kamu cek sendiri.”
“Eh,
iya. Kok nggak ada ya?”
“Mana
aku tau. Coba liat isinya.”
“Oke,
aku buka.”
“Bukanya
hati-hati.”
“Iya.”
Jessica
mulai membuka paket tersebut perlahan. Setelah dibuka, Jessica menemukan foto rumah
Jazz terbakar. Di balik foto tersebut terdapat tulisan “Terror masih berlanjut.
Ini berlaku untuk kalian berdua Jessica dan Julian. SELAMAT! RUMAH KAK JAZZ
SUDAH HANGUS TERBAKAR. DUA KORBAN MENINGGAL DUNIA. (4)”
“Kita
harus ke sana sekarang. Aku khawatir sama kondisi mereka.”
“Aku
turut prihatin. Kamu yang tenang ya.”
“Mana
bisa aku tenang! Mereka itu keluargaku.”
“Ini
ada apa sih? Kok malah ribut?” tanya Margareth yang baru saja kembali dari
dapur membawa nampan dengan tiga cangkir di atasnya.
“Julian,
ini ada apa?”
“Hmm …
rumah Kak Jazz kebakaran, Tan.”
“Ah,
yang bener? Kalian tau dari mana?”
Jessica
menyerahkan foto rumah Jazz yang terbakar. “Dari foto ini, Ma.”
“Coba
Mama lihat.”
“Ini
nggak mungkin. Kita ke sana sekarang.”
-oOo-
3 hari
kemudian. Acara pemakaman untuk Alexa dan Nasya telah dilaksanakan. Jazz
beserta keluarga sangat terpukul atas kepergian Alexa dan Nasya. Jazz pun
berjanji akan segera mencari pelaku pembakaran rumahnya. Orang tersebut harus
bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Setelah acara pemakaman
selesai, Julian, Jessica, dan Jazz mendatangi kantor polisi untuk menyerahkan
beberapa bukti baru atas kasus kebakaran rumah Jazz.
“Dari
bukti-bukti yang ada sepertinya kasus kematian Pak Maxime, teror di rumah Pak
Julian, dan kebakaran di rumah Pak Jazz memang berkaitan. Pihak kepolisian akan
terus melakukan penyelidikan dan menangkap pelakunya.”
“Tolong
segera dilakukan pencarian pelakunya ya, Pak. Pelaku ini sangat berbahaya. Saya
mau pelaku segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.”
“Baik,
Pak Jazz. Pihak kami akan berusaha semaksimal mungkin menemukan pelakunya. Kami
menghimbau agar Pak Jazz dan keluarga tetap berhati-hati dan terus
berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Segera laporkan kepada kami apabila ada
teror lanjutan.”
“Siap,
Pak. Kami akan berhati-hati. Terima kasih. Kami permisi.”
To be continued … ©2024 WillsonEP. Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya.
Next thorr
ReplyDeleteTega banget. Turut berduka cita, Jazz
ReplyDeleteKasian Alexa, Nasyaππ
ReplyDeleteNext
ReplyDeleteππ
ReplyDelete