Terror Games (Chapter 12)

Chapter 12

Julian baru saja menyelesaikan meeting internal dengan karyawan Ardiaman Group. Selesai meeting, ia langsung kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain. Saat sedang berkutat mempelajari dokumen kerja sama, tiba-tiba ponsel Julian berdering. Tertera nama Jessica melakukan panggilan video. Julian langsung menjawab panggilan tersebut dengan semangat.

“Halo, Pacar,” sapa Julian dengan penuh senyuman.

“Halo, Jul. Maaf, aku telepon kamu di jam kerja. Ganggu nggak? Kamu lagi sibuk?”

“Nggak sama sekali kalau buat kamu. Ada apa kamu telepon aku? Kangen ya?”

“Iya, aku kangen sama kamu, tapi ada hal lain yang mau aku sampein sama kamu.”

“Apaan tuh?”

“Polisi berhasil menemukan petunjuk baru terkait pelaku pembakaran rumah Kak Jazz.”

“Oh, iya? Petunjuk apa?”

“Polisi berhasil menemukan rekaman CCTV pelaku. Plat nomornya juga terlihat jelas dan sepertinya asli juga. Sekarang polisi lagi mencari identitas motor tersebut.”

“Aku turut seneng denger kabar baik ini. Semoga pelakunya bisa segera ditangkap ya.”

“Amin. Aku juga berdoa supaya pelaku pembunuhan papa kamu bisa segera terungkap.”

Amin, Jess. Oh, iya nanti malem kamu ada waktu nggak?”

“Hmm … ada kok. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ajak kamu makan malam.”

“Makan malam di mana? Pecel Lele Bu Annie lagi?”

“Ada deh. Bukan di sana pokoknya. Ini lebih romantis lagi.”

“Boleh. Jam berapa?”

“Jam 17.30 aku jemput kamu di kantor.”

“Okay. See you nanti sore, Jul.”

See you, Sayang. Semangat kerjanya!”

“Kamu juga.”

“Iya. Bye, Jess.”

“Bye, Jul.”

Panggilan diakhiri keduanya secara bersamaan. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Julian telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya hari ini. Julian langsung meraih ponselnya untuk mengabari sang kekasih.

Jessica Margareth 💙

17:00 Jess, aku baru beres nih. Kerjaan kamu udah beres juga ‘kan?

Udah, Jul. Kamu jadi jemput aku? 17:01

17:01 Jadi dong.

17:01 Aku otw sekarang.

17:02 Tunggu aku ya.

Okay. 17:02

Julian langsung beranjak dari kursinya, mengantongi ponselnya di balik jas, kemudian mengambil kunci mobil yang ditaruhnya di atas meja. Ia segera meninggalkan ruangannya menuju basement—tempat di mana mobil Julian terparkir.

“Target sudah masuk mobil, Bos.”

“Bagus, sekarang lempar batunya.”

“Baik, Bos.”

Seseorang berpakaian serba hitam langsung melemparkan sebuah batu yang dilapisi oleh kertas. Hal ini membuat Julian langsung keluar dari mobil, berusaha mengejar orang yang melempari mobilnya.

“Woy! Jangan kabur! Sial, cepat banget orang itu. Siapa dia sebenarnya?”

Selang beberapa saat, petugas keamanan menghampiri Julian.

“Ada apa, Pak Julian? Kenapa Bapak berteriak? Apakah ada masalah?”

“Ya, ada. Tadi ada orang yang menimpuk mobil saya pakai batu. Saya ‘kan sudah memberikan instruksi untuk menjaga kawasan kantor lebih ketat. Kenapa hal ini bisa kecolongan?”

“Mohon maaf, Pak. Ciri-ciri orangnya seperti apa, Pak?”

“Pakaiannya serba hitam. Kalian tolong urus dan cek CCTV. Laporkan juga hal ini ke pihak kepolisian. Saya harus pergi sekarang.”

“Baik, Pak.”

Julian kembali ke mobil. Tak lupa, ia pun membawa batu tersebut ke dalam mobil. Dibukanya kertas yang teremas.

Sudah siap dengan project baru? Siap-siap! 6-33-4-2-44

“Kurang ajar! Ancaman ini lagi. Siapa kamu sebenarnya? Jangan jadi pengecut!”

Julian langsung melajukan mobilnya meninggalkan area kantor dengan kecepatan sedang. Selang 30 menit perjalanan, Julian tiba di area parkir kantor Margareth, Son & Daughter Group. Julian turun dari mobil, kemudian beranjak memasuki gedung kantor.

“Julian! Akhirnya kamu sampai juga. Gimana kondisi kamu? Baik-baik saja ‘kan?” ujar Jessica sambil memeriksa kondisi sang kekasih.

“Aku baik-baik saja. Kenapa kamu khawatir seperti itu?”

“Kamu dapat teror lagi nggak? Aku barusan dapet surat teror lagi? Ini suratnya.”

Sudah siap dengan project baru? Siap-siap! 6-33-4-2-44

“Aku juga dapet surat ini. Isinya sama persis.”

“Aku takut, Jul. Kapan teror ini berakhir? Aku takut kehilangan orang yang aku sayangi. Aku udah kehilangan Nasya dan Kak Alexa.”

“Kamu tenang ya. Aku akan selalu melindungi kamu dan juga keluarga kamu.”

“Aku juga takut kehilangan kamu, Jul.”

“Aku tau itu. Aku janji aku akan jaga diri baik-baik.”

“Beneran ya?”

“Iya, Sayang. Sekarang kita dinner ya? Aku udah booking tempatnya.”

“Jadi dinner-nya?”

“Jadi dong, Sayang.”

“Kalau kita diteror lagi gimana?”

“Ya, kita hadapi sama-sama.”

“Aku sebenernya jadi takut ke mana-mana.”

“Kenapa harus takut? Kalau kita takut, pelakunya malah makin seneng. Kita nggak boleh takut.”

“Iya, deh. Kita mau dinner di mana?”

Love You More.”

“Oke, kita berangkat sekarang.”

“Oh, iya Mama dan Kak Jazz mana? Kita pamitan dulu.”

“Oke, mereka masih di ruangan masing-masing.”

Julian langsung mengajak Jessica masuk ke dalam lift supaya bisa berpamitan dengan Margareth dan Jazz.

“Kenapa nggak lewat chat aja sih?”

“Kurang afdol. Lebih baik secara langsung. Sekarang aku tanya kamu, kamu lebih suka ketemu aku langsung atau melalui video call?”

“Ketemu langsunglah!”

“Tuh, tau. Jadi kita pamit dulu ya. Baru pergi. Kita masih banyak waktu kok.”

“Iya, iya.”

-oOo-

Setelah berpamitan dengan Margareth dan Jazz, mereka pun berangkat menuju Love You More—restoran yang terkenal bernuansa romantis, sangat cocok untuk membahagiakan pasangan. Saat ini, Julian dan Jessica tengah menikmati makan malam romantis mereka dekat dengan kolam.

“Gimana kamu suka tempatnya?”

“Suka banget. Instagramable. Nanti habis makan kita foto-foto ya?”

“Boleh. Sekarang kita nikmati dulu makanan yang ada.”

“Oke. Makasih ya, Jul. Kamu selalu bisa bikin aku bahagia.”

“Sama-sama. Kalau kamu mau nambah, jangan sungkan ya.”

“Iya.”

Sekitar 30 menit lamanya Julian dan Jessica menikmati makan malam. Saat ini, mereka mulai berkeliling untuk mengambil beberapa momen berupa foto dan video. Satu, dua, tiga … cekrek. Satu, dua, tiga … cekrek. Julian dan Jessica terlihat bahagia menikmati waktu berdua mereka tanpa gangguan. Tak terasa, sudah 20 menit lamanya mereka berkeliling.

“Udah beres foto-fotonya, Jess? Aku udah capek nih. Kita pulang ya?”

“Udah kok. Ini udah banyak foto dan videonya. Kasian pacarku ini. Kita pulang sekarang.”

Mereka berdua langsung menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.

“Jul, kapan-kapan kita ke sini lagi ya? Makanan di sini enak-enak.”

“Boleh, kapan-kapan lagi ya. Aku seneng banget bisa dinner sama kamu hari ini.”

“Aku juga.”

“Sekarang langsung pulang? Atau mampir-mampir dulu?”

“Memangnya mau mampir ke mana lagi?”

“Aku mau ajak kamu makan sate langganan aku dan papa.”

“Sate? Makan lagi? ‘Kan kita udah makan tadi. Memangnya belum kenyang? Aku udah kenyang.”

“Aku belum. Kamu mau ‘kan temenin aku. Please.”

“Oke, sekarang kita pergi ke tukang sate langganan kamu ya. Aku temenin.”

“Makasih, Sayang.”

“Sama-sama.”

Julian melajukan mobilnya, meninggalkan area restoran menuju tukang sate langganan keluarganya. Lokasinya tidak begitu jauh dari Love You More. Hanya sekitar satu kilometer.

“Ini dia tukang sate langganan keluargaku. Warung Sate Pak Hidayat.”

“Oh, ini tempatnya. Lumayan rame ya.”

“Ya, karena sate di sini enak. Ayo, kita turun! Kalau nanti takutnya nggak kebagian.”

“Iya, iya.”

Julian dan Jessica turun dari mobil. Jessica langsung menempati salah satu tempat yang tersedia. Sementara Julian menghampiri Pak Hidayat, selaku pemilik warung sate tersebut.

Assalamualaikum, Pak. Pak Hidayat apa kabar?”

“Wa’alaikumussalam, Nak. Kabar baik, alhamdulilah. Lama nggak ke sini, Nak? Apa kabar kamu?”

“Baik, Pak.”

“Syukurlah. Oh, iya Bapak turut berduka cita ya atas meninggalkan Pak Maxime. Maaf, Bapak waktu itu nggak sempat datang ke pemakamannya. Nak Julian yang sabar dan kuat ya. Bapak nggak nyangka Pak Maxime pergi secepat ini. Beliau orang baik.”

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama. Oh, iya Nak Julian ke sini sama siapa? Pacarnya ya?”

“Iya, Pak. Saya ke sini sama pacar saya.”

Meni geulis.

“Iya, dong. Pacar saya. Oh, iya saya pesan sate sapinya 25 tusuk ya.”

“Siap, Nak. Sebentar Bapak buatkan. Nak Julian duduk dulu ya. Temenin pacarnya.”

“Iya, Pak. Saya udah kangen nih sama pacar saya. Permisi ya.”

“Nak Julian bisa aja. Sok atuh.”

Julian beranjak menghampiri Jessica.

“Akrab banget kamu sama penjualnya. Kalian udah kenal lama?”

“Ya, lumayan. Berapa tahun ya? Dulu Pak Hidayat itu jualan deket TK aku. Waktu itu papa sering beli satenya. Sate makanan favorit aku waktu kecil. Hampir setiap hari pasti aku minta ke papa.”

“Memangnya dibeliin tiap hari?”

“Ya, nggaklah. ‘Kan makan sate tiap hari nggak bagus juga.”

“Terus kalau nggak dibeliin kamu gimana?” tanya Jessica basa-basi dengan senyuman puas. “Pasti nangis!” lanjutnya.

“Iyalah, namanya juga masih kecil.”

“Kalau tadi aku nggak mau nemenin? Nangis juga?”

“Nggaklah! Aku udah gede, Jess.”

“Kirain nangis.”

Selang beberapa saat, Pak Hidayat mengantar pesanan Julian berupa 25 tusuk sate sapi.

“Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama. Selamat menikmati ya.”

Julian mulai melahap satu per satu sate yang baru saja diterimanya. Jessica hanya menyicipi dua tusuk karena ia sudah kenyang.

“Lahap bener makannya. Nggak pesen nasi juga? Katanya masih laper.”

“Nggak ah, tadi ‘kan udah makan nasi. Sekarang gado aja. Biasa aku makan sate jarang sama nasi.”

“Oh, ya? Bukannya lebih enak pake nasi ya? Biar kenyang.”

“Nggak salah sih, tapi aku lebih sering gado sate,” respon Julian sambil melanjutkan melahap sate yang dipegangnya.

Selesai makan sate, Julian dan Jessica kembali ke mobil. Namun, mereka dikagetkan dengan kondisi mobil yang penuh dengan coretan berwarna merah. Tentu hal ini membuat Julian geram, apalagi setelah ia membaca selembar surat ancaman yang ditemukan terselip pada wiper mobilnya.

PERSIAPKAN DIRI KALIAN, JULIAN, JESSICA !!! MALAM INI KALIAN BOLEH BAHAGIA SEBENTAR DENGAN MAKAN MALAM ROMANTIS, TAPI BESOK-BESOK AKU PASTIKAN HANYA AKAN ADA AIR MATA DI HIDUP KALIAN. HAHAHA.

To be continued … © 2024 WillsonEP. Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya.

Comments

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)