Terror Games (Chapter 9) ⚠️🔞
Chapter 9
Julian dan Jessica baru saja menyelesaikan makan malam bersama. Julian langsung beranjak ke kamar untuk mengambil beberapa perlengkapan penyelidikan. Mereka berencana melakukan penyelidikan lanjutan terkait pelaku pembunuhan Maxime dan teror yang selama ini terjadi. Sementara itu sambil menunggu Julian, Jessica hendak membantu Bi Ami mengangkat piring-piring kotor dari meja makan karena sebentar lagi meja tersebut akan beralih fungsi menjadi meja penyelidikan.
“Nggak usah, Non. Biar Bibi aja. Non Jessica ‘kan tangannya lagi sakit.”
“Maaf ya, Bi. Jessica nggak bisa bantu.”
“Nggak apa-apa, Non. Santai aja.”
Bi Ami langsung membawa piring-piring tersebut ke dapur. Tak lama, Bi Ami kembali membawa lap untuk membersihkan meja makan.
“Mejanya udah Bibi lap ya, Non biar penyelidikannya enak nggak lengket dan basah.”
“Makasih, Bi.”
“Sama-sama, Non. Bibi permisi ke dapur ya. Mau cuci piring-piring tadi.”
“Oke, Bi.”
Selang beberapa saat, Julian kembali membawa papan investigasi miliknya.
“Akhirnya kamu muncul juga. Kok lama?”
“Sorry, Jess. Aku lupa simpen laptop. Nggak ada di kamar.”
“Oh, gitu. Ya udah, pake laptop aku aja.”
“Oke.”
Julian dan Jessica langsung mengambil posisi duduk, samping-sampingan.
“Aku udah berhasil memecahkan kode angkanya.”
“Wah, serius? Apa maksud dari kode-kode tersebut?”
“Serius. Cie, ada yang penasaran nih.”
“Ah, kamu suka gitu. Kasih tau aku sekarang,” ujar Julian sambil menunjukkan ekspresi memelas. “Aku penasaran banget.”
“Oke, kamu tau keypad HP jadul?”
“Tau, yang mulainya dari alphabet ABC DEF HIJ dan seterusnya ‘kan?”
“Iya, yang itu. Maksud angka itu menunjukkan berapa kali kita mencet untuk suatu huruf. 22 untuk B, 444 untuk I, dan seterusnya.”
“Oh, berarti kalau dirangkai semuanya akan membentuk susunan huruf?”
“Iya.”
Julian mulai menyusun angka-angka tersebut berdasarkan urutan penerimaan.
“B – I – N – T – A – N – G. Ada kaitannya dengan Bintang Megah?”
“Ya, sepertinya memang begitu.”
“Dari awal aku udah curiga kalau ini ada hubungannya dengan Bintang Megah. Artinya sekarang kita tinggal menyelidiki orang-orang yang berhubungan dengan Bintang Megah. Ada Mr. Bintang, Mr. Chandra, Jason, Pak Ardian Permana, Pak Barni Naufal Olander. Menurut kamu siapa pelakunya, Jess?”
“Entahlah, aku nggak bisa menentukan siapa pelakunya sekarang. Kita harus menyelidiki mereka satu per satu. Dari postur tubuh pelaku yang ada di CCTV, menurutku bukan salah satu dari mereka.”
“Maksud kamu ada orang lain yang terlibat dalam kasus ini?”
“Iya, Jul. Bisa jadi orang suruhan.”
“Apa mungkin Kak Ardan terlibat juga dalam kasus ini?”
“Kenapa kamu mencurigai Kak Ardan?”
“Tadi pagi James telepon aku. Dia sempat liat Kak Ardan menemui Mr. Bintang di lapas. Gerak-geriknya mencurigakan banget. Bisa jadi dia dendam karena Papanya masuk penjara gara-gara kita.”
“Ya, bisa jadi, bisa juga nggak, Jul. Kita nggak boleh sembarangan nuduh orang tanpa bukti.”
“Aku tahu kita harus menyelidiki para terduga pelaku. Menurut kamu, kita harus mulai dari mana?”
“Hmm … mungkin dari yang udah keluar dari penjara.”
“Jason?”
“Iya, Jason. Siapa tahu kita dapat petunjuk soal gerak-gerik terduga lainnya selama di lapas.”
“Oke, kita coba temui Jason besok. Habis kita menyelidiki Jason, baru kita selidiki Kak Ardan.”
“Sekarang aku harus pulang. Udah malem.”
“Aku antar ya?”
“Nggak perlu, aku bisa naik taksi online.”
“Aku aja yang anter. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Lihat tangan kamu sekarang. Aku takut orang yang mencelakaimu masih mengintai.”
“Ya, udah. Aku ikut kata kamu aja.”
“Sebentar aku ambil kunci mobil di kamar.”
“Nggak lupa simpen lagi ‘kan?”
“Nggak. Ada kok di kamar. Sebentar ya, Sayang.”
“Oke, aku tunggu di sini.”
Tak butuh waktu lama, Julian kembali. Ia langsung mengajak sang kekasih masuk ke dalam mobil.
“Oh, iya gimana kondisi tangan kamu sekarang? Masih sakit?”
“Udah baik-baik aja kok.”
“Puji Tuhan. Aku doain semoga kamu cepet sembuh.”
“Amin.”
Sementara itu, di sisi lain seseorang mengintai gerak-gerik Julian dan Jessica.
“Ayo, cepat jalan! Kejutan sudah menanti kalian!”
Julian mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Jessica di Kompleks Coffee Garden. Jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekitar 30 menit apabila ditempuh menggunakan mobil. Namun, di tengah perjalanan terdengar suara ban pecah disusul dengan Julian yang tiba-tiba kehilangan kendali mobilnya hingga mobil tersebut menabrak pohon di samping jalan. Tak lama, seorang pengendara motor berhenti dan menghampiri mobil Julian.
“Semua sesuai rencana. Anak buahku memang bisa diandalkan. Sekarang bagaimana dengan kondisi mereka ya? Apakah mereka mati? Semoga saja tidak. Aku hanya mau melihat mereka menderita bukan mati. Aku harus cek kondisi mereka.”
Pengendara tersebut beranjak mendekati mobil Julian, mengecek kondisi mereka berdua.
“Syukurlah, mereka nggak mati. Sekarang aku harus pergi dari sini.”
Pengendara motor tersebut kembali ke motornya, kemudian langsung meninggalkan lokasi kejadian. Sementara itu, di dalam mobil Julian mulai sadarkan diri. Ia sempat melihat pengendara motor tersebut meninggalkan lokasi.
“Siapa dia? Apa dia yang menyebabkan kecelakaan ini?”
Julian beralih pandangan ke gadis di sampingnya. Ia berusaha membangunkan gadis itu dengan tenaga seadanya.
“Jess, bangun,” panggil Julian dengan suara pelan sambil mengecek lengan Jessica yang dalam kondisi digips.
“Kamu harus bertahan ya, Jess? Aku nggak mau kehilangan kamu. Kita keluar setelah kepalaku sedikit membaik ya?”
Selang beberapa saat, Julian mulai beranjak keluar mobil, kemudian menggendong Jessica yang masih tidak sadarkan diri menjauhi mobil untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
“Kita di mana, Jul? Apa yang terjadi?” ujar Jessica dengan suara pelan.
“Syukurlah kamu sadar, Jess. Kita di pinggir jalan. Kita kecelakaan.”
“Oh, gitu. Syukurlah kita berdua selamat. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Ban mobilku tiba-tiba pecah, Jess. Aku kehilangan kendali dan terjadilah kecelakaan ini.”
“Kok bisa pecah? Bukannya mobil kamu rutin di-service?”
“Entahlah, gimana kondisi kamu? Ada yang sakit? Tangan kamu gimana?”
“Hmm ... kepalaku sedikit pusing. Tanganku sepertinya baik-baik aja. Sekarang gimana?”
“Hmm ... kita cek kondisi kita ke rumah sakit dulu. Aku telepon ambulannya sekarang.”
“Oke.”
“Halo. Selamat malam. Tolong kirimkan dua unit ambulan ke sini. Baru saja terjadi kecelakaan di Jalan Latte. Korban ada dua orang.”
“Selamat malam, Pak. Baik, mohon ditunggu ya. Tim medis akan segera ke sana.”
Selang beberapa saat, dua unit ambulan datang ke lokasi kejadian bersama dengan pihak kepolisian. Julian dan Jessica segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan. Sementara itu, pihak kepolisian langsung mengamankan mobil Julian yang rusak parah.
To be continued … © 2024 WillsonEP. Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya.
Kok tulisannya kecil, Thor?
ReplyDeleteHalo, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saat ini, masalah sudah ditangani ya. 😊🙏🏻
DeleteMakin seru! Ditunggu next-nya
ReplyDeleteTerima kasih antusiasnya. 😊
DeleteNext
ReplyDeleteNggak sabar di Wattpad, jadi mampir ke sini.
DeleteWah, terima kasih. Stay tuned ya. Di WEP Story memang tayang lebih cepat dibandingkan Wattpad.
DeleteNext thorr
ReplyDelete