Terror Games (Chapter 17)

Chapter 17

Julian dan Jessica telah menjalani serangkaian pemeriksaan pasca penyekapan dua hari lalu. Gips Jessica pun telah boleh dibuka karena tulang tangannya yang retak sudah menyatu dengan sempurna. Saat ini, mereka tengah menikmati waktu berdua di ruang tengah kediaman Jessica sambil menonton tayangan televisi.

“Berita terkini, pelaku pembunuhan pengusaha Maxime berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian. Pelaku berinisial JJ serta rekannya bernisial J telah diamankan pihak kepolisian. Sebelum pelaku ditangkap, mereka sempat melakukan penyekaman terhadap putra dari Maxime Ardiaman dan kekasihnya di sebuah pabrik yang tidak beroperasi.”

“Aku nggak nyangka Jason bisa setega itu ngebunuh Om Maxime dan melakukan teror terhadap kita selama ini. Bukannya dia sahabat kamu ya?”

“Ya, aku juga sama sekali nggak nyangka Jason bakal melakukan hal sekeji itu. Aku kira dia orang baik, ternyata dia lebih bejat dari Mr. Bintang. Oh, iya kamu bisa temenin aku ke makam papa?”

“Hmm … bisa dong. Kapan mau perginya?”

“Sekarang bisa?”

“Bisa. Kita berangkat sekarang?”

“Oke.”

“Kalian mau ke mana lagi?” ujar Margareth yang tiba-tiba muncul.

“Kita mau ke makam Om Maxime, Ma. Mama mau ikut?”

“Boleh, Mama ganti baju sebentar ya?”

“Kak Jazz juga ikut ya?”

“Boleh, Kak.”

“Oke, sebentar Kakak ganti baju dulu.”

“Jangan pake lama, Kak.”

“Iya, Dek. Ada juga kamu yang biasanya lama. Dandannya kelamaan.”

“Biarin, namanya juga cewek.”

-oOo-

Selesai bersiap, mereka langsung menuju pemakaman Maxime. Setibanya di sana mereka langsung menaburkan bunga di atas makam Maxime.

“Pa, Papa yang tenang ya di sana. Pembunuh papa sekarang udah ditangkap oleh pihak kepolisian. Julian dan Jessica berhasil menemukan pelakunya.”

“Iya, Om. Om Maxime tenang di sana ya. Om Maxime nggak perlu khawatir Julian sendirian. Julian masih punya Jessica, Mama, dan Kak Jazz yang selalu ada kapanpun Julian butuh. Jessica bakal selalu di samping Julian, Om.”

“Yakin kamu selalu di samping Julian? Tinggal serumah aja nggak, gimana mau selalu di samping Julian?” goda Margareth.

“Iya, Jess. Kalian ‘kan beda rumah. Gimana bisa?” tambah Jazz.

“Maksud Jessica bukan gitu, Ma, Kak. Nggak 24 jam juga Jessica di samping Julian. Kamu ngerti ‘kan maksud aku, Jul?”

“Paham kok. Kamu sabar ya. Kalau aku udah siap, pasti aku akan dateng ke rumah kamu.”

“Cie, cie, jangan lama-lama ya, Jul. Minimal tiga tahun dari sekarang lah.”

“Setuju! Jangan lama-lama, Jul. Nanti Jessica keburu diambil orang.”

“Siap, Kak.”

“Ah, kenapa pada iseng sih?”

“Biarin. Pipi kalau merah lucu deh.”

“Julian!”

“Kenapa, Sayang?”

“Bisa nggak nyebelin?”

“Nggak.”

“Iseng banget sih.”

“Biarin.”

“Udah, udah, kok malah berantem? Kita doain aja supaya kalian bisa berjodoh suatu saat nanti. Amin.”

“Amin paling keras. Kak Jazz dukung JulCa berlayar!”

“JulCa apaan, Kak?”

“Julian Jessica berlayar!”

“Cakep. Amin. Terima kasih doanya, Kak.”

“Sama-sama, Jul.”

The end. © 2024 WillsonEP

Comments

  1. Yey, akhirnya selesai juga.

    ReplyDelete
  2. Ditunggu kisah lainnya

    ReplyDelete
  3. Akhirnya beres juga cerita. Jason bener-bener ih 😤😤

    ReplyDelete

Post a Comment

Trending This Week 🔥🔥

Di Balik Kisah Cinta SMA (Chapter 9)