Magic App 2 (Chapter 3)
Chapter 3 : Retakan Kecil
Della dan Devano masih berada di sebuah restoran dekat kantor Devano. Meja di depan mereka kini telah dipenuhi oleh dua porsi soto ayam dengan nasi hangat serta satu teko berisi teh yang baru saja diantar beberapa menit lalu.
“Kenapa kamu nggak cerita ke aku soal sekretaris baru kamu?”
“Aku … minta maaf belum sempat cerita hal ini ke kamu. Aku tunggu waktu yang tepat.”
“Waktu yang tepat? Kenapa nggak langsung cerita aja sih?” lanjut Della dengan nada yang tidak tinggi, tapi cukup tajam untuk membuat Devano terdiam beberapa detik.
“Aku pikir ini hanya hal kecil. Cuma sekretaris baru, nggak ada yang spesial.”
“Hal kecil menurut kamu, belum tentu kecil buat aku.”
“Sekali lagi aku minta maaf.”
“Tau ah! Sebel!”
Della beranjak dari duduknya.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku mau pulang!”
“Kok pulang? Ini sotonya belum disentuh loh. Kita makan dulu ya?”
“Udah nggak mood! Makan aja sendiri!”
Della meraih tasnya dengan cepat, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
“Del!” panggil Devano, setengah berdiri dari kursinya.
Beberapa pengunjung sempat melirik ke arah mereka. Devano menghela napas, lalu segera mengambil dompetnya dan meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.
“Maaf ya,” ucapnya singkat pada pelayan yang kebetulan lewat, sebelum bergegas menyusul Della.
Di luar restoran, langkah Della sudah lebih dulu menjauh. Ia kini sudah berada di pintu keluar parkiran.
“Della, tunggu!” panggil Devano sambil mempercepat langkahnya.
Della menghentikan langkahnya, tetapi tidak langsung berbalik.
“Apa lagi?” tanyanya dingin.
“Kita ke kantor aku bareng ya? Jangan kayak gini.”
Della berbalik, menatap Devano dengan ekspresi kesal yang belum mereda.
“Oke, aku setuju, tapi jangan ajak aku bicara!”
“Ya udah, aku nggak akan ajak kamu bicara.”
Keduanya akhirnya melangkah menuju mobil. Mobil Devano melaju keluar dari area parkiran. Suasana di dalam benar-benar hening. Della duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di dada, bibirnya terkatup rapat. Ia menepati ucapannya—tidak ingin berbicara.
Devano melirik sekilas ke arahnya, tapi tetap dalam diam. Beberapa menit kemudian, mobil Devano tiba di parkiran kantornya. Gedung yang menjulang tinggi tampak seperti biasa—sibuk, ramai, dan penuh aktivitas. Sangat kontras dengan suasana di dalam mobil mereka. Mobil Devano kini telah terparkir di tempat biasa.
“Aku langsung jalan ya?”
“Oke, Del. Kamu hati-hati ya?”
“Iya.”
Setelah berpamitan, Della beranjak turun, kemudian langsung masuk mobil miliknya. Devano masih duduk di dalam mobilnya, memerhatikan Della yang kini sudah menyalakan mesin mobilnya sendiri.
Tak ada tatapan.
Tak ada senyum.
Berbeda sekali dari biasanya.
Mobil Della perlahan melaju meninggalkan area parkiran tanpa menoleh lagi. Devano menghela napas panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak.
“Kenapa jadi kayak gini…” gumamnya pelan.
Selang beberapa saat, ponsel Devano bergetar. Devano membuka matanya perlahan. Tangannya meraih ponsel yang bergetar di sampingnya. Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terdiam.
Kimberly is calling …
Devano menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
“Ya, Kim?”
“Selamat siang, Pak. Maaf, mengganggu waktunya. Saya mau memberi tahu bahwa meeting dengan Pak Januar dimajukan menjadi pukul dua siang. Bapak sudah di mana ya? Kita harus segera berangkat.”
“Saya sudah di parkiran. Kamu langsung turun saja. Jangan lupa bawa dokumen yang dibutuhkan, jangan ada yang tertinggal.”
“Baik, Pak.”
Comments
Post a Comment