Chapter 4 : Notifikasi Lama Kembali Muncul Sejak pukul 16.30 tadi, Della telah berada di apartemen. Ia baru saja keluar kamar mandi dengan rambut setengah basah. Tangannya bergerak pelan, mengusap sisa air dengan handuk sebelum ia melangkah menuju balkon. Langit sore mulai berubah warna. Jingga yang lembut perlahan memudar, tertutup awan berwarna abu gelap—mendung seperti akan turun hujan. Angin berhembus pelan, membawa hawa dingin yang terasa asing di kulitnya. Della berdiri diam di sana, menatap langit yang semakin muram. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya tidak benar-benar tenang. Ada sesuatu yang mengganjal—perasaan tidak nyaman yang sejak tadi siang mengganggu pikirannya. Selang beberapa saat, ia kembali masuk ke dalam. Handuk basah itu ia gantung pada rak jemuran yang berada di sudut ruangan, dekat jendela yang sedikit terbuka. Della melangkah menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya dengan lelah tanpa benar-benar merasa mengantuk. “Tumben jam segini Devano belum pulan...
Chapter 8 : Rasa Bersalah Jam digital pada dasbor mobil telah menunjukkan pukul 18.00. Aline baru saja memarkirkan mobilnya di perkarangan rumahnya yang tidak terlalu luas. Dari kaca bagian depan, Aline dapat melihat Bima sudah menunggu kedatangannya di teras rumah dengan ekspresi datar. Aline segera turun dari mobil, menghampiri lelaki itu dan menyalaminya. “Aku pulang, Bim.” “Akhirnya kamu pulang juga.” “Kamu kenapa sih, Bim? Mukanya kok gitu amat? Ada masalah? Kamu bisa cerita sama aku.” “Ada. Kamu nganterin Sakti tadi pagi gimana sih?” “Ya, seperti biasanya sampai parkiran. Emangnya kenapa?” “Kenapa Sakti bisa bolos hari ini? Kamu memangnya nggak pastiin dulu Sakti masuk gedung sekolah?” “Sakti bolos? Pasti kamu bercanda ya, Bim. Sakti ‘kan paling nggak mau bolos sekolah. Memang tadi pagi aku nggak pastiin dia masuk soalnya Mama minta aku segera ke kantor.” “Aku nggak bercanda. Kenyataannya Sakti memang bolos hari ini. Nggak hanya itu, dia juga udah berani coba-coba...
Comments
Post a Comment