Magic App 2 (Chapter 4)
Chapter 4 : Notifikasi Lama Kembali Muncul
Sejak pukul 16.30 tadi, Della telah berada di apartemen. Ia baru saja keluar kamar mandi dengan rambut setengah basah. Tangannya bergerak pelan, mengusap sisa air dengan handuk sebelum ia melangkah menuju balkon. Langit sore mulai berubah warna. Jingga yang lembut perlahan memudar, tertutup awan berwarna abu gelap—mendung seperti akan turun hujan.
Angin berhembus pelan, membawa hawa dingin yang terasa asing di kulitnya. Della berdiri diam di sana, menatap langit yang semakin muram. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya tidak benar-benar tenang. Ada sesuatu yang mengganjal—perasaan tidak nyaman yang sejak tadi siang mengganggu pikirannya. Selang beberapa saat, ia kembali masuk ke dalam.
Handuk basah itu ia gantung pada rak jemuran yang berada di sudut ruangan, dekat jendela yang sedikit terbuka. Della melangkah menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya dengan lelah tanpa benar-benar merasa mengantuk.
“Tumben jam segini Devano belum pulang. Apa dia lagi sama perempuan itu?”
Della meraih ponselnya yang semula berada di atas nakas, memeriksa notifikasi ponsel barangkali Devano memberinya kabar, tetapi belum sempat terbaca. Ternyata, lelaki itu sama sekali tidak menghubunginya.
“Apa dia marah? Ah, kenapa jadi dia yang marah? Harusnya aku dong yang marah.”
Della menghela napas pelan, lalu menatap layar ponselnya lebih lama. Jemarinya sempat ragu, menggantung di atas layar, seolah ingin mengetik sesuatu—sebuah pesan singkat yang mungkin bisa menghapus rasa penasaran yang terus mengusik. Namun, pada akhirnya ia mengurungkan niat itu.
“Kenapa harus aku duluan yang chat? Harusnya dia duluan dong.”
Ia meletakkan ponselnya di atas dada, menatap langit-langit kamar.
“Della kamu kenapa sih hari ini? Bawaannya kok badmood terus. Apa bawaan hamil ya?”
Della mengelus perutnya pelan.
“Mama minta maaf ya, Nak.”
Kini hujan benar-benar turun deras, mengetuk kaca jendela dengan ritme tak beraturan. Della masih mengelus perutnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri dan mungkin calon buah hatinya. Selang beberapa saat, suara Devano terdengar.
“Del,” panggilnya dari luar kamar. “Aku beli Ayam Merah Wuenak nih. Kita makan bareng ya?” lanjut Devano.
Tak lama, pintu kamar terbuka. Devano masuk perlahan.
“Kamu lagi ngapain?”
“Baru beres mandi.”
“Kamu pasti belum makan. Kita makan bareng ya? Aku beli ayam merah favorit kamu.”
“Aku nggak laper.”
“Yakin? Masih marah soal tadi siang? Sekali lagi aku minta maaf.”
Della terdiam untuk beberapa saat.
“Oke, aku maafin. Kita makan sekarang ya?”
“Makasih, Sayang.”
Devano tersenyum lega. Ia mendekat, lalu mengulurkan tangan pada Della.
“Yuk, kita makan di luar, jangan di kamar.”
Della mengangguk pelan. Ia bangkit dari tempat tidur, menerima uluran tangan Devano, kemudian ikut bersama lelaki itu ke ruang tengah. Aroma ayam merah serta nasi hangat langsung menyambut. Meski di luar hujan semakin deras, justru Della merasakan kehangatan yang perlahan menenangkan. Mereka duduk berhadapan.
“Kok makannya di sini?”
“Sengaja. Biar bisa sambil nonton.”
“Oh, gitu. Kok pulangnya telat?”
“Ya, ‘kan beli ini semua dulu. Tadi ramai banget, agak antre.”
“Wajar sih. Habis ayamnya enak.”
“Iya, makanya aku bela-belain demi istriku tersayang,” ujarnya santai sambil mulai membuka satu per satu bungkus makanan di hadapan mereka.
“Ah, kamu bisa aja. Dasar gombal!”
“Aku nggak gombal, Della. Aku serius.”
Devano menatap Della lekat, seolah ingin memastikan bahwa ucapannya benar-benar tulus dari hati. Awalnya Della hendak menimpalinya dengan candaan, tetapi ia urungkan karena ia terlalu lelah untuk membedakan apakah ucapannya tulus.
“Iya, aku tahu,” jawab Della singkat sambil mulai menyuap nasi ke mulutnya.
Suara hujan masih mengguyur tanpa henti, berpadu dengan suara televisi yang menjadi latar samar di ruang tengah. Della mulai merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, untuk beberapa saat, ia bisa mengabaikan pikiran-pikiran buruk yang sempat mengganggunya sejak tadi siang. Devano tampak lahap menikmati makanannya. Sesekali ia melirik Della, memastikan istrinya benar-benar sudah tidak marah.
“Ayamnya enak ‘kan?”
“Enak banget, Yang. Masih panas lagi.”
“Iya, tadi baru goreng banget ayamnya.”
Ting! Sebuah notifikasi masuk terdengar dari ponsel milik Devano. Devano yang sedang menyuap nasi berhenti sejenak. Refleks, ia melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Layar itu menyala.
Ada satu notifikasi pesan masuk.
Tanpa berpikir lama, Devano langsung membalikkan ponselnya. Layar yang tadi menghadap ke atas kini tersembunyi, menempel pada permukaan meja.
Gerakannya cepat.
Terlalu cepat.
Della yang duduk tepat di depannya tanpa sadar ikut menoleh. Entah kenapa, perasaannya langsung berubah. Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa tidak nyaman di dadanya—perasaan yang sama seperti tadi siang.
“Ada chat masuk tuh,” ucap Della pelan. “Nggak dicek? Siapa tau penting.”
“Nggak perlu. Nanti aja.”
Devano beranjak dari duduknya.
“Mau ke mana?”
“Aku mau mandi.”
“Ayamnya belum habis nih.”
“Aku kenyang. Ayamnya buat kamu aja ya? Aku mandi dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Devano langsung beranjak meninggalkan ruang tengah. Sementara itu, Della masih duduk di tempatnya.
“Devano kenapa sih? Kok aneh banget? Apa ada sesuatu lagi yang dia tutup-tutupi dariku?”
Della menatap punggung Devano yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik pintu kamar. Suara hujan masih terdengar jelas, seolah mempertegas keheningan yang kini menggantung di ruang tengah.
“Apa perlu aku mengecek HP-nya? Ah, nggak boleh! Kamu harus percaya sama suami kamu sendiri.”
Namun, pikiran itu tidak benar-benar pergi. Della melanjutkan makannya sambil sesekali melirik ponsel Devano yang tergeletak di atas meja.
“Kalau nggak ada yang penting, kenapa harus dibalik?”
Della menelan sisa makanannya, tetapi rasanya tiba-tiba berubah hambar. Nafsu makannya hilang begitu saja, tergantikan oleh rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi kegelisahan. Ting! Suara notifikasi kini berbunyi dari ponsel milik Della sendiri. Sang pemilik ponsel langsung meraihnya, mengecek notifikasi yang baru saja muncul.
Magic App
Make your husband as you want. Control your husband now?
Della menatap notifikasi itu cukup lama. Notifikasi lama yang kembali muncul.
“Nggak, nggak. Aku nggak mau pakai aplikasi ini lagi. Devano bukan robot yang bisa dikendalikan sebuah aplikasi.”
Selang beberapa saat, suara Devano memanggil terdengar samar. Della segera beranjak menghampiri sang suami di kamar. Setibanya di kamar, Devano terlihat sedang berada di balik pintu kamar mandi.
“Kenapa, Yang?”
“Bisa ambilin handuk? Aku lupa.”
“Kebiasaan deh. Bentar ya? Hmm … di jemuran nggak ada. Kamu simpen di mana?”
“Tadi pagi udah aku masukin keranjang. Ambil baru aja.”
“Oh, gitu. Sebentar aku ambilin.”
Della berbalik menuju lemari, mengambil satu handuk bersih yang terlipat rapi, kemudian kembali pada Devano.
“Makasih, Istriku.”
“Sama-sama. Kenapa liatin aku kayak gitu?”
Comments
Post a Comment