Magic App (Chapter 6)

Chapter 6 : Suami Ideal

Della masih terbangun meskipun ia sudah beberapa kali mencoba memejamkan matanya. Ia masih memikirkan Devano yang tidak pulang malam ini. Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi Magic App untuk memeriksa apakah perintah pertamanya telah diproses atau belum.

Magic App

Baik, Kak. Permintaan Kak Della Magic App proses dulu ya. 19:38

19:50 Apakah permintaan saya sudah berhasil diproses?


Halo, Kak Della. Mohon maaf, Magic App saat ini masih memproses permintaan Kak Della. Ditunggu ya, Kak. 😊 19:50

19:51 Kok lama? Tumben banget.


Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya ya, Kak Della. Magic App kebetulan sedang dalam pemeliharaan sistem sehingga prosesnya butuh waktu lebih lama. 19:52

19:52 Kira-kira kapan prosesnya selesai?


Besok pagi ya, Kak. Mohon ditunggu. 😊 19:53

Della menghela napas pelan, lalu menaruh ponselnya di atas nakas. Ia memejamkan matanya perlahan, mencoba untuk tidur. Selang beberapa saat, Della akhirnya terlelap.

-oOo-


Waktu telah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Alarm ponsel Della berbunyi seperti biasanya. Della segera meraih ponselnya, mematikan alarm tersebut. Ia menghela napas pelan sambil menatap layar ponselnya. Ting!

Magic App

Permintaan Kak Della telah berhasil diproses! ✨ 05:01

“Akhirnya berhasil juga. Semoga hari ini menjadi lebih baik. Amin.”

Della mengunci layar ponselnya perlahan, lalu menaruh kembali ponselnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk menjalani rutinitas paginya. Sekitar 20 menit lamanya, Della berada di dalam kamar mandi. Setelah selesai, ia keluar mengenakan bathrobe dengan rambut yang masih sedikit basah. Langkahnya berhenti di depan lemari. Della membuka lemari pakaiannya, mengambil setelan kerja—blouse krem dan celana bahan berwarna hitam. Dengan gerakan cepat, ia berganti pakaian, lalu merapikan rambutnya seadanya di depan cermin.

“Sempurna.”

Della melangkah keluar kamar. Belum sempat berpikir hendak memasak apa untuk sarapan, hidungnya sudah lebih dulu menangkap aroma masakan yang menggoda dari arah dapur.

“Hmm … wangi banget. Apa Nia masak ya? Tumben banget.”

Della melanjutkan langkahnya menuju dapur. Di sana, terlihat Devano sedang sibuk di depan kompor. Sementara itu, Nia duduk dengan santai di meja makan sambil memainkan ponselnya.

“Eh, Bumil udah bangun. Pagi, Kak,” ujar Nia begitu melihat keberadaan Della di sana.

“Pagi, Del. Akhirnya kamu keluar juga. Aku sudah siapkan nasi goreng spesial buat kamu dan Nia,” tambah Devano sambil menuangkan nasi goreng buatannya di atas piring.

“Pagi, Yang. Tumben banget. Ini pertama kalinya aku lihat kamu masak.”

“Ya, nggak apa-apa dong. Sekali-kali aku yang masak. Aku minta maaf ya karena semalam nggak pulang. Kerjaan aku lagi banyak banget akhir-akhir ini.”

It’s okay.”

“Ayo, Kak! Gabung sini. Kita cobain masakan Kak Devano.”

“Iya, Dek. Kira-kira bakal enak nggak ya?”

“Pasti enak dong,” respons Devano percaya diri.

Della duduk di kursi, tepat di samping Nia. Tatapannya masih belum lepas dari Devano yang kini sedang meletakkan dua piring nasi goreng di hadapannya.

“Ayo, silakan dicoba.”

“Nia coba ya, Kak.”

Nia mulai menyuap nasi goreng buatan Devano. Sementara itu, pandangan Della beralih pada wajah Nia.

“Gimana, Dek? Enak?”

“Ini enak banget, Kak! Sumpah!”

“Tuh ‘kan pasti enak. Kamu harus cobain, Del.”

“Iya, Kak. Nyesel kalau Kak Della nggak cobain.”

“Oke, aku cobain.”

Della meraih sendok, lalu perlahan menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya. Ia mengunyah pelan, mencoba merasakan setiap bumbu yang menyatu di lidahnya.

“Gimana? Aku masaknya pakai cinta loh.”

Della menelan makanannya lebih dulu sebelum menjawab.

“Ini … enak banget. Ternyata kamu jago masak juga. Kok aku nggak pernah tau sih?”

“Ini bakat terpendamku. Oh, iya kamu pagi-pagi udah rapi aja. Mau ke mana?”

“Rumah sakit lah. Ngantor.”

“Ngantor hari Sabtu?”

“Hari Sabtu? Bukannya hari ini Jumat?”

“Bukan Jumat, Sayang. Hari ini Sabtu.”

Della mengernyit pelan. Ia menoleh ke arah Nia, seolah meminta pembenaran.

“Iya, Kak. Ini Sabtu kok,” sahut Nia santai sambil melanjutkan aktivitas makannya.

“Aku salah dong. Kok bisa sampai salah hari.”

“Mungkin kamu terlalu capek aja. Wajar kok. Sekarang lanjut sarapan ya?”

“Kamu nggak sarapan?”

“Sarapan kok. Kita satu piring berdua ya? Eh, maksudku bertiga sama calon buah hati kita. Porsinya sengaja aku banyakin.”

“Boleh.”

“Habis makan aku langsung pulang ya, Kak?”

“Kok pulang? Nggak di sini dulu aja?”

“Iya, Nia. Sekalian kita jalan-jalan bareng.”

“Nggak dulu deh, Kak. Ada tugas kuliah yang harus Nia selesaikan.”

“Oh, gitu. Ya udah, kapan-kapan kita jalan bareng ya?”

“Oke, Kak.”

Della mengangguk pelan, lalu kembali menyuap nasi gorengnya. Entah kenapa, suasana pagi itu terasa … berbeda. Hangat, tenang, bahkan terlalu sempurna dibandingkan hari biasanya.

Devano yang biasanya terburu-buru, kini duduk santai di hadapannya. Sesekali pria itu melirik ke arah Della, tersenyum, lalu menyuapi sang istri.

“Harus banyak makan. Biar kamu sama dedeknya sehat,” ucap Devano lembut.

“Tumben kamu perhatian banget.”

“Memang seharusnya dari dulu aku seperti ini.”

Della tersenyum kecil. Namun, di balik senyumannya ia merasakan keanehan dalam diri Devano.

“Ini bukan Devano banget. Apa semuanya akan baik-baik saja? Apa aku terlalu berlebihan?”

“Aduh, aku jadi nyamuk nih. Nia pulang sekarang aja ya? Takutnya ganggu.”

“Mau pulang sekarang? Aku antar ya?”

“Nggak perlu, Kak. Aku bawa motor kok. Kak Devano jagain Kak Della ya?”

“Pasti Kak Devano jagain. Nia tenang aja ya?”

“Nia pamit ya, Kak. Makasih sarapannya.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan.”

Della mengangguk pelan melihat Nia beranjak pergi. Pintu depan pun tertutup, menyisakan keheningan yang tidak biasa di antara dirinya dan Devano.

“Lanjut lagi makannya.”

“Iya, Suamiku.”

“Del …”

“Iya?”

“Sekali lagi aku minta maaf ya soal kemarin.”

“Iya, aku maafin.”

“Kerjaan aku memang lagi banyak banget.”

“Iya, aku paham banget. Kerjaan CEO perusahaan terbuka memang nggak mudah. Lain kali kabarin akunya jangan setengah-setengah ya.”

“Siap, Istriku. Lain kali aku bakal lengkap kabarinnya.”

“Janji?”

“Aku janji.”

Della dan Devano kembali melanjutkan aktivitas makan mereka. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring. Namun, keheningan itu bukan keheningan yang canggung. Justru keheningan yang membuat nyaman. Della diam-diam memerhatikan Devano.

Cara Devano makan lebih pelan dari biasanya, tidak terburu-buru dan tidak sambil mengecek ponsel. Ponselnya tergeletak begitu saja di meja tanpa disentuh sama sekali.

“Hari ini kita di rumah aja ya? Istirahat.”

“Iya, Suamiku.”

“Satu lagi.”

“Apa?”

No handphone for one day.”

Della terdiam mendengar permintaan yang cukup tidak masuk bagi seorang Devano.

“Kamu yakin bisa nggak pegang HP selama satu hari? Kalau ada yang penting gimana?”

“Tentu. Nggak ada yang lebih penting dari kamu, Sayang. Mana HP kamu?”

Della meraih ponselnya dari dalam tas, kemudian menyerahkannya pada Devano.

“Oke, siapa takut.”

Devano tersenyum tipis menerima ponsel itu.

“Aku taruh di laci dapur ya?”

“Oke.”

Devano berjalan menuju dapur, membuka laci, lalu meletakkan dua ponsel mereka di dalamnya. Della memperhatikannya dari kejauhan.

“Aman,” ujar Devano sambil menepuk kedua tangannya, seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang penting.

“Aman dari apa?” tanya Della setengah bercanda.

“Dari gangguan dunia luar.”

“Sekarang apa?”

“Kamu duduk manis saja di sana. Biar aku yang beres-beres.”

“Kamu yakin bisa sendiri?”

“Tentu.”

Devano kembali ke ruang makan, mengambil piring-piring kotor dari meja makan.

“Sekarang aku cuci piring dulu.”

“Makasih, Yang.”

“Nggak perlu berterima kasih. Udah tugas aku bantu kamu mengurus apartemen ini.”

“Oh, iya rumah kita kapan selesai? Aku udah nggak sabar banget tinggal di sana.”

“Hmm … progress-nya sudah 80 persen. Sabar ya?”

“Iya, Yang.”

To be continued … © 2026 by WillsonEP.
Jangan lupa comments, and share.
Terima kasih sudah mampir. 😊

Comments

Trending This Week 🔥

My Love Destiny (Chapter 2)

Magic App 2 (Chapter 5)

Little Parents 2 (Chapter 4)