Little Parents (Chapter 6)
Chapter 6 | Rahasia yang Terbongkar
Saat ini, Aline tengah berada di
ruang BK. Ia sedang dimintai keterangan terkait alat tes kehamilan yang
ditemukan berada di antara buku-buku miliknya.
“Aline, jawab pertanyaan Ibu
dengan jujur. Apakah testpack ini punya kamu?”
Setelah beberapa kali ditanya,
Aline akhirnya mengakui bahwa benda tersebut adalah miliknya dan sekarang ia
sedang mengandung anak dari Bima. Bima pun langsung diminta datang ke ruang BK.
“Bima, apa benar yang dikatakan
Aline bahwa Aline hamil anak kamu?”
“Hmm… benar, Bu. Bayi yang
dikandung Aline memang anak saya.”
“Saya nggak menyangka Bima. Kamu
itu murid berprestasi di sekolah ini. Kenapa kamu melakukan hal ini?”
“Saya minta maaf, Bu. Saya khilaf.”
“Sekarang kalian temui kepala
sekolah. Mari saya antar.”
Mereka pun beranjak menuju ruang
kepala sekolah.
“Jadi kamu benar menghamili
Aline, Bima?” tanya Pak Wijaya, sang kepala sekolah.
“Benar, Pak. Saya minta maaf.”
“Jujur, saya kecewa sama apa yang
kamu lakukan. Kamu itu salah satu siswa berprestasi di sekolah ini. Kenapa kamu
melakukan hal itu?”
“Saya khilaf, Pak. Sekali lagi
saya minta maaf.”
“Sekarang kita tunggu orang tua
kalian datang ya? Mereka sedang dalam perjalanan.”
“Bapak menelepon orang tua kami?”
“Tentu dong. Kalian itu masih di
bawah tanggungan mereka. Kita harus bahas masalah ini bersama mereka.”
Beberapa saat kemudian. Kedua
orang tua Bima dan mama Aline tiba dan memasuki ruangan.
“Sebenarnya apa yang terjadi
dengan anak saya, Pak?”
“Iya, Pak. Apa yang terjadi sebenarnya?
Kenapa orang tua Aline ada di sini juga?”
“Bapak dan Ibu-ibu di sini saya
panggil karena ada sesuatu yang perlu pihak sekolah sampaikan terkait Bima dan
Aline.”
“Memangnya ada apa dengan mereka,
Pak? Mereka berbuat sesuatu?” tanya Karina dengan nada mulai curiga.
“Benar, Bu. Bima telah menghamili
Aline. Kami menemukan bukti ini di tas milik Aline.”
“Testpack? Dua garis?
Aline, ini bukan punya kamu ‘kan? Kamu nggak hamil ‘kan, Sayang? Jawab Mama,”
tanya Karina sambil menggenggam tangan Aline.
“Aline minta maaf, Ma. Aline
memang benar hamil anak Bima.”
Karina yang emosi langsung
beranjak dari duduknya dan langsung menampar Bima yang ada di depannya.
“Beraninya ya kamu merusak anak saya!
Mana janjimu akan menjaga putri saya dengan baik? Ini yang kamu bilang menjaga?”
bentak Karina sambil menampar pipi Bima lagi sebanyak dua kali.
“Maaf, Tante. Saya nggak
bermaksud… merusak Aline. Saya khilaf,” respon Bima dengan ketakutan melihat
kemarahan Karina yang semakin menjadi-jadi.
“Sudah, Bu. Cukup, jangan tampar
Bima lagi. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik.”
“Bicara baik-baik? Anak Ibu telah
merusak anak saya! Ibu pikir saya bisa bicara baik-baik sama lelaki bejat
seperti ini? Oh, tidak bisa. Lelaki ini harus saya kasih pelajaran.”
“Benar, Bu Karina. Ini sekolah,
tolong pelankan suara Ibu. Takutnya murid-murid lain terganggu. Bisa Ibu Karina
duduk kembali? Kita lanjutkan pembicaraannya.”
“Oke, urusan kita belum selesai. Maaf,
Pak. Silakan dilanjutkan.”
Pembicaraan di antara mereka
dilanjutkan. Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya pihak sekolah
memutuskan untuk mencabut beasiswa Bima dan menskornya selama dua minggu.
Sementara itu, Aline terpaksa dikeluarkan dari SMA Cahaya Cemerlang karena
kehamilannya.
“Puas, kamu menghancurkan masa
depan anak saya? Gara-gara kamu, anak saya harus dikeluarkan dari sekolah.”
“Saya akan bertanggung jawab,
Tante. Tante tidak perlu khawatir.”
“Tanggung jawab yang seperti apa?
Menikahi anak saya dan menanggung seluruh kehidupan anak saya?”
“Iya, Tante. Saya akan menikahi
Aline secepatnya. Saya akan menanggung semua biaya hidup Aline dan calon anak
kami berdua.”
“Apa kamu sanggup? Kamu tahu apa
soal kehidupan? Kamu pikir biaya hidup itu murah? Semua harus pakai uang. Nggak
hanya cinta.”
“Saya akan berusaha Tante
memenuhi semua kebutuhan Aline dan calon anak kami.”
“Baiklah, mulai hari ini bisa?
Aline, kamu ikut calon suami kamu. Mama permisi pulang dulu.”
Karina pergi meninggalkan Aline
bersama Bima dan keluarganya.
“Ma, maafin Aline.”
“Sudah, Lin. Sekarang kita pulang
ke rumahku ya?”
“Tapi gimana dengan Mama?”
“Mamamu masih emosi, Lin. Jadi
kamu tinggal di rumah Bima saja ya untuk sementara waktu?”
“Iya, Bu. Maaf, jadi merepotkan.”
Mereka pun meninggalkan
lingkungan sekolah menggunakan taksi online. Sementara itu, Bima mengayuh sepedanya
mengikuti di belakang.
“Bu, Pak, Aline minta maaf ya?
Aline nggak bermaksud bikin Bima dan kalian susah seperti ini. Aline menyesal
telah melakukan hal itu.”
“Sudah, Sayang. Nggak usah
dipikirkan. Semuanya sudah terjadi juga.”
“Iya, betul apa yang dikatakan
Ibu. Nasi sudah jadi Bubur, Nak. Kita jalani saja kehidupan kedepan dengan
lebih baik lagi. Bapak tahu ini tidak mudah. Kita jalani bersama-sama ya?”
“Iya, Pak, Bu. Terima kasih sudah
mau nerima Aline di keluarga kalian.”
Beberapa saat kemudian. Mereka
tiba di perkampungan tempat tinggal Bima dan keluarga. Mereka terpaksa
melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki karena jalan ke rumah mereka
tidak dapat dilalui oleh mobil. Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka
menjadi bahan perbincangan para tetangga. Beberapa dari mereka penasaran dengan
keberadaan Aline yang baru pertama kali memasuki kampung ini.
“Gadis ini siapa, Bu Desti?
Pacarnya Bima ‘kah?”
“Iya, Bu. Kenalin dong ke
kita-kita. Kayaknya dari orang kaya nih. Hebat ya kamu, Bim.”
“Sudah, Bu. Nggak usah dijawab.
Kita lanjutkan saja perjalanan kita.”
“Eh, Bim. Kok gitu sih? Jawab
dong. Gadis ini siapa?”
“Jangan ikut campur urusan kami
ya, Ibu-Ibu.”
Mereka melanjutkan perjalanan
mereka hingga tiba di sebuah rumah yang begitu sederhana. Ukurannya tidak
begitu besar, cukup untuk dua kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, ruang makan,
dan ruang tamu.
“Maaf, kalau rumah aku nggak
sebagus rumahmu, Lin.”
“Nggak apa-apa, Bim. Aku
bersyukur kamu mau menampungku dan bertanggung jawab. Kalau orang lain, mungkin
akan kabur begitu saja.”
“Aku ‘kan sudah janji sama kamu.
Pasti aku tepati. Sekarang kamu istirahat di kamarku saja ya? Aku antar.”
“Boleh.”
Bima mengantar gadis itu ke kamarnya.
“Ini kamarku, Lin. Kamar mandinya
tepat di seberang.”
“Oh, gitu. Oke. Sekarang kamu
istirahat saja di dalam. Maaf, kalau agak berantakan.”
“Tidak apa. Kalau aku di kamar
kamu, kamu tidur di mana?”
“Hmm… karena kamarnya hanya dua,
aku tidur di ruang tamu. Kita ‘kan belum nikah jadi belum boleh sekamar. Kalau
tetangga tahu, bisa jadi masalah besar. Istirahatlah.”
“Oh, gitu. Kamu ada benarnya. Btw, kapan kita nikah?”
“Secepatnya. Aku akan diskusi
dulu sama Bapak, Ibu, sama Mama kamu soal ini. Kamu tinggal terima beres.”
“Oke, deh. Sebelum istirahat aku
mau mandi dulu boleh? Baju gantinya gimana ya? Aku nggak bawa baju sama
sekali.”
“Kamu ambil saja bajuku di
lemari.”
“Memangnya nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa. Atau kalau nggak
nyaman nanti aku beli deh beberapa baju buat kamu di pasar.”
“Makasih, Bim. Kalau di sini ada
air hangat?”
Bima menggeleng.
“Nggak ada, Lin. Kamu nggak bisa
mandi air dingin?”
“Hmm… biasanya sih air hangat.”
“Kali ini mandi air dingin saja
ya? Soalnya gas di rumah ini hanya buat masak. Semuanya pada mandi air dingin.”
“Oh, gitu. Ya sudah, nggak
apa-apa. Aku harus belajar adaptasi di sini.”
To be continued... ©2023 WillsonEP
Kasian keluarga Bima ðŸ˜ðŸ˜ Digosipin sama warga sekampung
ReplyDeleteNggak usah dengerin, Bim... Nasi udh jadi bubur, nggak bakal jadi nasi lagi... Jalani saja dan jangan membuat kesalahan yang sama....
ReplyDeleteNextt thorr
ReplyDeleteNext thorrr
ReplyDelete