Little Parents (Chapter 9)
Chapter 9 | Dokter Kandungan
Hari ini tanggal 26 Desember. Bima
memutuskan untuk membawa Aline ke dokter kandungan. Hari ini mereka ditemani juga
oleh Karina, Afan, dan Destiana.
“Kamu sudah daftar ‘kan, Bim?
Dokter siapa?” tanya Karina dengan nada agak ketus.
“Sudah, Ma. Bima daftar ke Dokter
Marini.”
“Dokternya bagus nggak? Kalau
nggak, ganti dokter saja. Biar Mama yang pilih.”
“Nggak usah, Ma. Dokter yang Bima
pilih bagus kok.”
“Kamu yakin sama pilihan suamimu
ini? Dia pasti pilih yang murah meriah dan yang terpenting dokter kandungan.
Iya, ‘kan, Bim?”
“Nggak, Ma. Bima sudah pilih yang
terbaik dan sesuai kemampuan Bima.”
“Sudah, Ma. Kita percaya saja
sama Bima.”
“Terserah kamu.”
“Atas nama Aline Karina Putri.”
“Sudah giliran kamu, Sayang. Ayo,
masuk!”
Mereka semua beranjak memasuki
ruangan dokter satu per satu.
“Gila, banyak banget yang masuk.”
“Iya, kayaknya korban MBA
deh. Mas sama Mbaknya masih muda banget kelihatannya.”
“Iya, jadinya orang tuanya pasti
ikut. Anak umur segitu ngerti apa soal kandungan. Memang anak muda zaman
sekarang kelakuannya banyak yang mines.”
Di ruangan dokter, Aline langsung
diminta berbaring untuk di-USG.
“Bim, lihat itu anak kita. Lucu
banget. Ternyata sudah lumayan gede dia.”
“Iya, Lin. Aku sudah nggak sabar
menunggu kelahirannya. Bagaimana kondisinya, Dok?”
“Alhamdulilah, bayi kalian
sehat, perkembangannya normal.”
“Apa jenis kelaminnya sudah
terlihat, Dok?” tanya Aline penasaran.
“Belum, karena usia kandungannya baru
menginjak tiga bulan lebih sedikit.”
“Oh, gitu. Yah, belum terlihat.
Kalau kelihatannya kapan ya, Dok?”
“Jenis kelamin biasanya dapat
diketahui di usia kehamilan 18—20 minggu atau sekitar 4—5 bulan. Ada lagi yang
ingin ditanyakan?”
“Hmm… kamu mau tanya apalagi,
Lin?”
“Nggak ada, Bim. Sudah cukup.”
“Kalau dari Masnya mungkin ada
pertanyaan?”
“Hmm… nanya apa lagi ya? Saya
bingung, Dok. Cukup saja deh.”
“Baiklah, tidak apa. Saya permisi
dulu ke meja untuk bicara sama orang tua kalian.”
“Baik, Dok. Silakan.”
“Bim, syukurlah anak kita
sehat-sehat. Sebenarnya aku takut banget sama kondisinya.”
“Kenapa harus takut?”
“Soalnya aku pernah baca, hamil di
usia 16 tahun lebih beresiko karena rahim belum matang. Disarankan hamil di
usia 21 tahun ke atas.”
“Oh, ya? Aku baru tahu. Kita
doakan saja yang terbaik. Anak kita pasti bisa bertahan dan sehat terus sampai
kelahirannya di dunia.”
“Amin.”
Setelah semua urusan di klinik
selesai, mereka pun pulang diantar oleh Karina.
“Terima kasih ya Bu Karina sudah
mengantar kami pulang. Maaf, jadi merepotkan.”
“Sama-sama. Aline, mulai hari ini
kamu dan Bima tinggal di rumah Mama ya?”
“Hmm… tinggal di rumah Mama ya?
Aku sih gimana Bima aja. Kalau Bima mengizinkan, aku ikut Mama. Gimana, Bim?”
“Kalau itu mau Mama, ya nggak
apa-apa. Pasti Mama kangen tinggal sama kamu, Lin. Sekarang kita siap-siap
dulu, baru kita ke rumah Mama.”
“Nggak perlu, semua kebutuhan
kalian sudah Mama siapkan. Kita langsung jalan saja.”
“Ya, sudah, Bim, Aline, kalian
ikut Bu Karina ya? Bapak dan Ibu turun dulu.”
“Iya, Bim. Kamu baik-baik ya di
sana.”
“Iya, Bu. Bima akan baik-baik
saja.”
“Bu, saya titip Bima dan Aline
ya?”
“Iya, Ibu. Saya akan jaga Bima
dan Aline dengan baik.”
“Makasih, Bu. Maaf, merepotkan.”
“Tidak sama sekali. Sekarang ‘kan
Bima sudah jadi anak saya juga.”
Setelah Afan dan Destiana turun,
Karina melajukan mobilnya.
“Gimana kamu tinggal di rumah
kumuh itu selama 3 bulan tanpa fasilitas dari Mama? Kamu bahagia tinggal
bersama Bima?”
“Kenapa Mama bicara seperti itu? Aline
bahagia kok tinggal di sana. Bim, maafin Mama ya?”
“Kenapa kamu harus minta maaf
sama dia? Semua yang Mama katakan ‘kan memang fakta lapangan.”
“Iya, Lin. Nggak apa-apa. Semua
itu memang benar.”
“Tuh Bima saja nggak apa-apa. Kamu
terlalu berlebihan.”
Sekitar 30 menit, mereka tiba di
kediaman mewah Karina yang sempat ditinggal Aline selama tiga bulan lamanya.
“Welcome back, Aline
sayang. Ini rumahmu yang sebenarnya. Jangan kamu tinggalkan rumah ini lagi ya?”
“Makasih, Ma, tapi untuk
keputusan aku tinggal atau pergi dari rumah ini semuanya ada di tangan Bima,
suamiku.”
“Ya, tidak apa. Sekarang kita
masuk ya? Mama punya kejutan untuk kamu.”
“Kejutan apa?”
“Langsung masuk saja ya?”
Mereka bertiga mulai memasuki
rumah mewah tersebut.
“Welcome back, Non Aline!”
sambut Tuminah atau yang biasa dikenal sebagai Bi Tum, asisten rumah tangga di
rumah tersebut.
Aline langsung memeluk Bi Tum
hangat. Ia bahagia sekali bisa ketemu dengan Bibi yang membantu membesarkan
dirinya.
“Akhirnya Aline ketemu lagi sama
Bibi. Bibi kapan balik dari kampung?”
“Iya, Non. Bibi juga kangen sama
Non Aline. Sudah lama kok, Non. Kalau nggak salah, tanggal 18 September lalu
Bibi sudah ada di rumah, tapi Non Aline sudah nggak tinggal di sini.
Dengar-dengar sudah nikah sama Den Bima ya?”
“Iya, Bi. Aline sudah nikah sama
Bima.”
“Selamat ya, Non. Semoga
pernikahannya langgeng dan bahagia selalu.”
“Amin, Bi. Makasih.”
“Sudah dramanya?” tanya Karina
dengan ketus. “Tum, kamu sudah siapkan kamar Aline ‘kan?”
“Maaf, Nyonya. Tum terbawa
suasana. Soal kamar Non Aline semuanya sudah beres.”
“Bagus, itu. Kalau kamar tamu
untuk Bima?”
“Sudah juga, Nyonya, tapi maaf
bukannya Den Bima sama Non Aline sudah menikah? Kenapa harus tidur pisah kamar,
Nyonya?”
“Ya, karena Bima ini belum pantas
bersanding dengan anak saya. Kamu bisa lihat pakaiannya? Lusuh dan tidak enak
dilihat. Kamu juga bisa lihat baju Aline sekarang? Ikutan lusuh. Mau ditaruh di
mana muka saya punya mantu yang bentukannya nggak level seperti ini.”
“Ma, cukup! Jangan hina Bima
seperti itu. Bim, kamu nggak usah dengar perkataan Mama ya? Kamu tidur di
kamarku saja, nggak perlu di kamar tamu. Ayo!”
Aline menarik lengan Bima,
mengajaknya ke kamarnya.
“Aline, tunggu! Mama belum
selesai bicara.”
Aline dan Bima telah berada di
kamar. Sesampainya di kamar, Bima langsung meringkuk di dekat jendela.
“Bim, kamu baik-baik saja?”
Bima menggeleng sambil terus
menatap ke arah jendela.
“Aku minta maaf atas apa yang
dikatakan mama barusan.”
“Nggak perlu minta maaf. Semua
yang dikatakan mama barusan memang benar adanya. Memang aku yang salah sudah
berani melangkah lebih jauh sebelum aku mapan. Aku memang nggak pantas buat
kamu, Lin.”
“Kamu mulai deh rendah diri lagi.
Aku nggak suka kamu yang seperti ini.”
“Sudahlah kamu nggak perlu
gunakan kata-kata itu. Memang kita berbeda, Lin. Mama kamu nggak suka aku. Apa
rumah tangga kita dapat dipertahankan?”
“Jangan ngomong seperti itu. Aku
nggak mau pisah dari kamu. Kasihan anak kita, Bim. Aku nggak mau anak kita jadi
korban broken home.”
“Hmm… kamu ada benarnya. Aku
harus berjuang biar mama suka sama aku. Kira-kira apa yang harus aku lakukan?”
“Kalau menurutku sih, kamu harus
di make over biar kelihatan pas jadi mantu idaman.”
To be continued... ©2023 WillsonEP
Yang sabar, Bim...
ReplyDeletenexttt
ReplyDelete